Bagi seorang muslim, selalu ada niat yang mendasari perbuatannya. Ia tidak akan bertindak tanpa mengetahui niatnya terlebih dahulu. Ini dikarenakan niat lebih dihargai daripada tindakan. Rosulullah saw bersabda, setiap perbuatan harus disertai dengan niat. Begitu juga ketika muslim membuat pilihan.
Pada pemilu kali ini, seperti anda, saya mempunyai niat memilih caleg baik dari partai baik. Apakah ada caleg dan partai baik? itu menjadi persoalan yang membutuhkan pembahasan di tempat lain. Yang dibahas disini adalah, memilih atau tidak memilih haruslah didasari oleh niat.
Ketika seorang muslim telah berniat memilih, itu berarti ia mengetahui benar: 1) mengapa memilih? dan 2) siapa yang dipilih? Apapun jawabannya, pasti berharga baginya, sehingga ia bersungguh-sungguh mewujudkan niatnya itu. Begitu juga ketika ia telah berniat tidak memilih alias golput.
MENGAPA MEMILIH?
Saya tidak ingin berdebat, manakah yang lebih baik, memilih atau tidak memilih? saya percaya, muslim yang berniat memilih telah melihat masih ada caleg baik dari partai baik yang pantas dipilih, ia khawatir seandainya caleg dan partai yang ia anggap baik itu tidak terpilih. Begitu juga dengan muslim yang berniat tidak memilih, ia telah melihat tidak ada satu pun yang pantas dipilih.
Jadi, masih adakah yang pantas dipilih pada pemilu 2009 ini? ah, pertanyaan semacam itu selalu saja menggoda untuk dijawab. Tapi sungguh, saya benar-benar tidak ingin berdebat tentang baik-buruk, benar-salah, pantas-tidak pantas.
SIAPA MEMILIH SIAPA?
Saya percaya, sebuah pilihan menentukan kualitas pemilihnya. Pilihan yang buruk menunjukkan pengetahuan pemilih tentang pilihannya adalah seburuk yang ia pilih. Kalau begitu, kualitas parlemen yang selalu menjadi langganan berita acara KPK adalah cerminan dari kualitas pemilih pada pemilu 2004 lalu. Bagaimana dengan pemilu 2009? tergantung kualitas pemilih kali ini. Orang yang dengan sadar menerima uang panas dari seorang caleg pasti akan memilih caleg yang juga dengan sadar akan menerima uang panas dar i pihak lain. Begitulah, pemilih korup akan memilih politisi korup. Jika ada politisi busuk, itu karena ada pemilih busuk. Siapakah pemilih busuk itu? bisa siapa saja, asalkan bukan kita, karena kita adalah seorang muslim.
Seorang muslim akan memilih sesama muslim sebagai pemimpin, karena ia telah tunduk dan patuh pada ajaran Allah dan Rosul-Nya. Adakah seorang muslim yang rela dipimpin oleh non muslim? Bagi muslim, tidak ada perbedaan antara pemimpin negara dan pemimpin agama, pemimpin dunia dan pemimpin akhirat. Pemimpinn yang dibutuhkannya adalah pemimpin yang membimbing bagaimana bisa hidup didunia dengan baik agar bisa hidup diakhirat dengan baik pula. Pemimpin seperti itu hanya bisa dipenuhi oleh seorang muslim.
Ah, pertanyaan ini menggoda lagi, bagaimanakah membedakan antara pemimpin yang benar-benar muslim dan pemimpin yang mengaku muslim? Baiklah, barangkali kisah berikut ini bisa membantu menjawab,
Seorang sultan mengadakan perlombaan antara seniman Yunani dan Cina untuk menentukan siapa yang lebih baik. Keduanya diberikan sebuah ruangan untuk memperlihatkan bakatnya. Kedua ruangan itu berhadapan, pintunya terbuka. Orang cina mengambil salah satu, orang Yunani mengambil satunya lagi. Orang Cina meminta ratusan cat. Orang Yunani tidak meminta apa-apa karena telah berencana akan membersihkan dinding dari karat. Keduanya menutup pintu dan bekerja dengan rajin.
Setelah merampungkan pekerjaannya, orang Cina mulai memukul genderang gembira. Sang sultan dayang dan melihat lukisan mereka. Begitu melihatnya, ia tergetar oleh keindahan dan kemegahan seni itu. Lalu, ia pindah ke ruangan yang memamerkan keahlian orang Yunani. Orang Yunani menyingkapkan tirai sehingga pantulan lukisan orang Cina meneganai dinding yang telah dibersihkannya dari karat, sehingga dinding memantulkan karya orang cina. Apa yang dilihat sultan diruangan Cina tampak lebih indah di sini karena alih-alih mencoba meniru pekerjaan Pencipta, orang Yunani dapat memantulkan karya-Nya. Mata sultan sangat terkagum-kagum.
Dari kisah diatas, dan mengingat hati seseorang bagaikan cermin, saya menyimpulkannya begini,
Hanya dengan terus menerus memperbaiki diri kita bisa membedakan hal-hal baik dan hal-hal buruk.
Hanya dengan sungguh-sungguh menjadi muslim kita bisa membedakan antara muslim asli dan muslim palsu.
Nah, bagaimana dengan kesimpulan anda?
Tampilkan postingan dengan label haram golput. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label haram golput. Tampilkan semua postingan
Senin, 30 Maret 2009
Muslim Memilih
Label:
aktifitas,
Cinta,
etos kerja muslim,
haram golput,
iman,
Islam,
Khalifah,
politik islam,
problema kemanusiaan,
spiritual parenting,
Spritualitas
Rabu, 11 Maret 2009
Jika Saya Seorang Caleg (1)
Ini tentang imajinasi saya, senadainya saya seorang caleg. Seperti para caleg lainnya, tentu saya juga kampanye. Untuk itu saya pasang baliho besar-besar, sebar stiker banyak-banyak, kontrak stasiun TV dan radio sering-sering, belanja iklan media cetak berlembar-lembar (ehm..apa lagi ya?) Di semua media iklan itu, saya tidak menyerukan orang memilih saya. Saya tidak katakan: mohon doa dan contrengannya, pilihlah saya, dsb. Sebab saya percaya bahwa tidak boleh memberian kekuasaan/jabatan/amanat kepada yang memintanya, karena disitu ada nafsu, dan sepanjang sejarah kehidupan nafsu selalu saja bad ending. Di media iklan itu saya ingin mengajak orang-orang mampir ke sutris.blogspot.com atau ke akaun facebook/sutrisno supaya meraka kenal saya melalui ide-ide yang saya tuliskan. Jika saya tidak terpilih, cukuplah ide-ide saya telah tersampaikan dan pada saat itu saya telah berhasil sebagai penyampai kebajikan. Apakah mereka setuju atau tidak dengan ide-ide saya itu, tidak jadi persoalan serius bagi saya. Tugas saya hanya menyampaikan.
Dengan menjadicaleg, saya hanya ingin ambil kesempatan lebih luas supaya saya bisa bicara lebih banyak tentang, salah satunya, perlunya memilih pemimpin yang baik. Saya percaya, pemimpin yang baik itu adalah:
1) seorang muslim. Bagi saya, muslim itu harus apa adanya sebagaimana konsep dan tujuan penciptaan, bukan muslim kira-kira, muslim prasangka, atau muslim ide. Nah, untuk mengetahui lebih jauh tentang muslim apa adanya, anda perlu bergabung di grup muslim apa adanya (klik lagi deh facebook/sutrisno).
2) hobi menulis. Bukan sekedar menulis, tetapi menulis sebagai bentuk perumusan diri. dengan menulis, seolah-olah kita ingin bilang: itulah saya, tau paling tidak: saya ingin seperti itu. Kita mengenal seseorang dari tulisan yang tidak hanya satu atau dua buah bukan? Kalau hanya bicara, banyak orang hobi bicara apa saja karena sudah itu menguap tanpa bekas. Saya suka dengan pemimpin yang pidato membaca teks. Tapi teks yang ditulisnya sendiri. Karena disitu ia telah melalui suatu pergumulan hebat antara potensi baik dan potensi buruk dalam dirinya. Pokoknya, pemimpin yang baik adalah yang hobi menulis, bukan hobi menyanyi atau mendongeng.
3)punya website/blog/beranda facebook. Nah, kalau ini tidak usah dijelaskan lagi, semua sudah paham kan? Itu adalah ruag tamu yang terbuka untuk siapa saja. Pemimpin yang baik pasti mau membuka diri dan kehidupannya secara jujur dan terbuka, karena dirinya adalah bukan miliknya lagi, tetapi sudah menjadi milik orang yang telah memilihnya.
Jadi, kalau anda memilih saya, diucapkan terima kasih banyak, kalau tidak, pilihlah orang baik sebab anda adalah orang baik. Saya percaya, orang baik akan dipimpin oleh orang baik pula. Perlu anda ingat, jika kehidupan bangsa ini bertambah baik, andalah penyebabnya, dan jika bertambah buruk, anda pula penyebabnya.
Bagi saya, menjadi caleg adalah awal prjuangan, dan harus dimulai dari sini, sekarang, meski baru jadi caleg, bukan nanti kalau terpilih. Perjuangan tidak perlu syarat. Kalau ingin memperbaiki bangsa ini ya dimulai saat ini, bukan nanti kalau terpilih.
Saya percaya, kalau bangsa ini akan menjadi baik bila dipimpin oleh orang-orang baik. Siapakah mereka itu? Nah, hanya orang baik yang dapat mengenali orang baik. Hanya orang baik yang ingin dipimpin oleh orang baik pula.
Ah, barangkali selama ini kita telah salah memilih. Dikiranya orang itu baik hingga layak dipilih, tapi ternyata? begitu mengecewakan. Mengapa kita bisa salah memilih? Mengapa kita tidak bisa melihat dengan benar, apakah orang itu benar-benr baik atau berpura-pura baik? Apakah karena kita juga berpura-pura dan mengaku baik? pas kalau begitu! kepura-puraan bertemu dengan kepura-puraan. akhirnya bangsa ini sesak dengan orang yang suka berpura-pura, suka mengaku-ngaku, munafik! Lihat saja sila pertama, ketuhanan YME, tapi pada prakteknya, sila-sila itu juga yang dijadikan sebagai Tuhan.
Kalau sudah begitu, yuk kita ikhlaskan saja bangsa ini menjadi bangsa pura-pura, karena pemimpin dan rakyatnya suka berpura-pura, suka mengaku-ngaku.
Bangsa ini belum sejahtera? jangan salahkan pemimpim, salah kita sendiri, karena kitalah mereka jadi pemimpin. Kita yang dulu memilih mereka atau kita yang dulu membiarkan mereka terpilih dengan menjadi golput. Bukankah pilihan menunjukkan kualitas sang pemilih?
Nah, saat ini adalah saat kita memulai kembali dengan benar. Pilihlah orang baik sebagai pemimpi. UNtuk dapat mengenali manakah pemimpin yang baik, kita harus menjadi baik terlebih dahulu. Jadi, kebaikan dimulai dari sini, dari diri kita sendiri. Bersihkan hati, maka kita kan mampu melihat tembus melampaui segala macam atribut, simbol dan kata-kata. Bersihkan hati maka kita tidak akan kecewa.
Hal-hal seperti itulah yang sedang saya perjuangkan. Untuk itu saya rela menghabiskan banyak uang, waktu dan tenaga. Seandainya saya tidak terpilih, uang waktu dan tenaga yang telah tercurahkan tetap tidak akan sia-sia. Saya berharap, perjuangan saya ini akan membuat orang lain ikut berjuang pula, menjadi baik untuk dapat memilih yang baik.
.....bersambung aja ya....
Dengan menjadicaleg, saya hanya ingin ambil kesempatan lebih luas supaya saya bisa bicara lebih banyak tentang, salah satunya, perlunya memilih pemimpin yang baik. Saya percaya, pemimpin yang baik itu adalah:
1) seorang muslim. Bagi saya, muslim itu harus apa adanya sebagaimana konsep dan tujuan penciptaan, bukan muslim kira-kira, muslim prasangka, atau muslim ide. Nah, untuk mengetahui lebih jauh tentang muslim apa adanya, anda perlu bergabung di grup muslim apa adanya (klik lagi deh facebook/sutrisno).
2) hobi menulis. Bukan sekedar menulis, tetapi menulis sebagai bentuk perumusan diri. dengan menulis, seolah-olah kita ingin bilang: itulah saya, tau paling tidak: saya ingin seperti itu. Kita mengenal seseorang dari tulisan yang tidak hanya satu atau dua buah bukan? Kalau hanya bicara, banyak orang hobi bicara apa saja karena sudah itu menguap tanpa bekas. Saya suka dengan pemimpin yang pidato membaca teks. Tapi teks yang ditulisnya sendiri. Karena disitu ia telah melalui suatu pergumulan hebat antara potensi baik dan potensi buruk dalam dirinya. Pokoknya, pemimpin yang baik adalah yang hobi menulis, bukan hobi menyanyi atau mendongeng.
3)punya website/blog/beranda facebook. Nah, kalau ini tidak usah dijelaskan lagi, semua sudah paham kan? Itu adalah ruag tamu yang terbuka untuk siapa saja. Pemimpin yang baik pasti mau membuka diri dan kehidupannya secara jujur dan terbuka, karena dirinya adalah bukan miliknya lagi, tetapi sudah menjadi milik orang yang telah memilihnya.
Jadi, kalau anda memilih saya, diucapkan terima kasih banyak, kalau tidak, pilihlah orang baik sebab anda adalah orang baik. Saya percaya, orang baik akan dipimpin oleh orang baik pula. Perlu anda ingat, jika kehidupan bangsa ini bertambah baik, andalah penyebabnya, dan jika bertambah buruk, anda pula penyebabnya.
Bagi saya, menjadi caleg adalah awal prjuangan, dan harus dimulai dari sini, sekarang, meski baru jadi caleg, bukan nanti kalau terpilih. Perjuangan tidak perlu syarat. Kalau ingin memperbaiki bangsa ini ya dimulai saat ini, bukan nanti kalau terpilih.
Saya percaya, kalau bangsa ini akan menjadi baik bila dipimpin oleh orang-orang baik. Siapakah mereka itu? Nah, hanya orang baik yang dapat mengenali orang baik. Hanya orang baik yang ingin dipimpin oleh orang baik pula.
Ah, barangkali selama ini kita telah salah memilih. Dikiranya orang itu baik hingga layak dipilih, tapi ternyata? begitu mengecewakan. Mengapa kita bisa salah memilih? Mengapa kita tidak bisa melihat dengan benar, apakah orang itu benar-benr baik atau berpura-pura baik? Apakah karena kita juga berpura-pura dan mengaku baik? pas kalau begitu! kepura-puraan bertemu dengan kepura-puraan. akhirnya bangsa ini sesak dengan orang yang suka berpura-pura, suka mengaku-ngaku, munafik! Lihat saja sila pertama, ketuhanan YME, tapi pada prakteknya, sila-sila itu juga yang dijadikan sebagai Tuhan.
Kalau sudah begitu, yuk kita ikhlaskan saja bangsa ini menjadi bangsa pura-pura, karena pemimpin dan rakyatnya suka berpura-pura, suka mengaku-ngaku.
Bangsa ini belum sejahtera? jangan salahkan pemimpim, salah kita sendiri, karena kitalah mereka jadi pemimpin. Kita yang dulu memilih mereka atau kita yang dulu membiarkan mereka terpilih dengan menjadi golput. Bukankah pilihan menunjukkan kualitas sang pemilih?
Nah, saat ini adalah saat kita memulai kembali dengan benar. Pilihlah orang baik sebagai pemimpi. UNtuk dapat mengenali manakah pemimpin yang baik, kita harus menjadi baik terlebih dahulu. Jadi, kebaikan dimulai dari sini, dari diri kita sendiri. Bersihkan hati, maka kita kan mampu melihat tembus melampaui segala macam atribut, simbol dan kata-kata. Bersihkan hati maka kita tidak akan kecewa.
Hal-hal seperti itulah yang sedang saya perjuangkan. Untuk itu saya rela menghabiskan banyak uang, waktu dan tenaga. Seandainya saya tidak terpilih, uang waktu dan tenaga yang telah tercurahkan tetap tidak akan sia-sia. Saya berharap, perjuangan saya ini akan membuat orang lain ikut berjuang pula, menjadi baik untuk dapat memilih yang baik.
.....bersambung aja ya....
Label:
etos kerja muslim,
haram golput,
Kehidupan,
Khalifah,
politik islam
Langganan:
Postingan (Atom)