BULATKAN TEKAD, SUCIKAN HATI, LANJUTKAN PERJALANAN
Suatu kali, Chuban Bustami, seorang teman di FB, mengirimkan gift berupa satu nama dari Al-Asma Al-Husna, yaitu Al-Jabbar: Maha Memaksa. Saya terus bertanya-tanya sendiri, mengapa Al-Jabbar, bukan nama-Nya yang lain? Apakah ia memilihnya begitu saja dengan tanpa bermaksud apa-apa? Mungkin ia begitu, tetapi Allah tidak begitu. Perbuatan-Nya tidak pernah terjadi sia-sia, tidak pernah tanpa maksud, melainkan ada satu tujuan tertentu. Rabbanaa maa khalaqta hadza baathila. Tanpa pernah menanyakan kepada sang pemberi, saya biarkan gift itu tertempel di wall profile saya, dengan harapan suatu hari nanti, saya memahami mengapa Al-Jabbar datang menyapa.
Di waktu yang lain, seorang teman di FB juga, Zainal Ahmad, datang secara pribadi tanpa bertemu muka. Ada satu fokus yang kami perbincangkan sampai akhirnya saya menemukan dari kalimat-kalimatnya 3 buah kata yang menghentak saya: nah ini dia: KHOLIQ-MAKHLUQ-AKHLAQ. Saya coba merangkai ketiga kata tersebut dalam benak saya: ketika KHOLIQ menyapa MAKHLUQ, maka Dia akan bertajalli dalam bentuk AKHLAQ.
Pada waktu yang lain lagi, saya bertanya-tanya lagi dalam hati: siapakah Al-Jabbar? Lalu saya mencari-Nya dibuku Laleh Bahktiar yang berjudul meneladani akhlak Allah melalui Al-Asma Al-Husna, dan saya menemukan di halaman 48:
"....Maha Memaksa (Al-Jabbar)....(QS. Al-Hasyr [59]: 23)
Maha Memaksa adalah sifat Allah yang memiliki kekuatan kehendak yang menguasai segala makhluq dan segala sesuatu, sementara tak ada kekuatan kehendak yang menguasai-Nya. Tak ada yang bebas dari kekuatan ini. Kehendak Allah itu mutlak dan hal ini menjadikan kebesaran Allah berada di atas segala wujud lain. Melalui kehendak-Nya, Allah memaksa makhluk-Nya untuk mematuhi nasihat-nasihat-Nya yang positif (amar bi al ma'ruf) atau perintah-Nya dan mencoba mencegah perkembangan yang negatif (nahy 'an al-munkar) atau larangan-Nya. Nasihat ini merupakan bagian dari sifat naluriah yang terkandung dalam makhluk dan benda. Nasihat ini membuat makhluk cenderung mengikuti kehendak Allah. Pada tingkat tertinggi kecenderungan ini, ia akan menyadari jiwanya, yang kemudian digunakannya untuk bersaksi tentang Sang Pencipta. Tentu Allah sanggup memaksa semua makhluk, tetapi tak ada yang memaksa Dia. Tak ada seorang pun di dunia ini yang mendekati kekuatan Allah dan ketakterjangkauan-Nya. Menurut Al-Ghazali, sifat ini paling baik menggambarkan Muhammad saw."
dan dihalaman 99:
"Dengan menjelmakan bagian dari sifat Maha Memakasa (Al-Jabbar), ia menemukan bahwa dengan menyempurnakan kehendak Allah, ia akan memiliki kesadaran yang diperlukan untuk memahami apa yang ingin dilakukannya, menemukan kekuatan kehendaknya, dan bertindak.
Tekad ksatria ruhani menuju yang Maha Memaksa adalah bergerak menuju penyembuhan dengan mulai menyucikan hatinya, menghiasinya dengan perbuatan terpuji. Ia kini memasuki proses kreatif dan melalui proses ini ia bertekad untuk menciptakan kembali atau mewujudkan fitrah Allah yang dibawanya sejak lahir."
Akhirnya, yang harus kita lakukan setelah menemukan identitas sebagai hamba Allah dan wakil-Nya adalah membulatkan tekad mewujudkan identitas tersebut dengan mulai menyucikan hati dan menghiasi diri dengan perbuatan terpuji.
Saya, Chuban Bustami, Zainal Ahmad dan Laleh Bakhtiar belum pernah bertatap muka dan suara sampai saat ini, namun Allah swt, dengan cara-Nya, menghendaki kami bertemu di jalan menuju kepada-Nya, subhanallah, semoga Allah merahmati mereka.
Dan...perjalanan MENJADI MUSLIM APA ADANYA kembali dimulai.....
Tampilkan postingan dengan label aktifitas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aktifitas. Tampilkan semua postingan
Rabu, 01 April 2009
Berhenti Sejenak...(2)
Label:
aktifitas,
etos kerja muslim,
iman,
Islam,
Kehidupan,
Khalifah,
Mengenal diri,
muslim,
pengetahuan suci,
Spritualitas
Senin, 30 Maret 2009
Muslim Memilih
Bagi seorang muslim, selalu ada niat yang mendasari perbuatannya. Ia tidak akan bertindak tanpa mengetahui niatnya terlebih dahulu. Ini dikarenakan niat lebih dihargai daripada tindakan. Rosulullah saw bersabda, setiap perbuatan harus disertai dengan niat. Begitu juga ketika muslim membuat pilihan.
Pada pemilu kali ini, seperti anda, saya mempunyai niat memilih caleg baik dari partai baik. Apakah ada caleg dan partai baik? itu menjadi persoalan yang membutuhkan pembahasan di tempat lain. Yang dibahas disini adalah, memilih atau tidak memilih haruslah didasari oleh niat.
Ketika seorang muslim telah berniat memilih, itu berarti ia mengetahui benar: 1) mengapa memilih? dan 2) siapa yang dipilih? Apapun jawabannya, pasti berharga baginya, sehingga ia bersungguh-sungguh mewujudkan niatnya itu. Begitu juga ketika ia telah berniat tidak memilih alias golput.
MENGAPA MEMILIH?
Saya tidak ingin berdebat, manakah yang lebih baik, memilih atau tidak memilih? saya percaya, muslim yang berniat memilih telah melihat masih ada caleg baik dari partai baik yang pantas dipilih, ia khawatir seandainya caleg dan partai yang ia anggap baik itu tidak terpilih. Begitu juga dengan muslim yang berniat tidak memilih, ia telah melihat tidak ada satu pun yang pantas dipilih.
Jadi, masih adakah yang pantas dipilih pada pemilu 2009 ini? ah, pertanyaan semacam itu selalu saja menggoda untuk dijawab. Tapi sungguh, saya benar-benar tidak ingin berdebat tentang baik-buruk, benar-salah, pantas-tidak pantas.
SIAPA MEMILIH SIAPA?
Saya percaya, sebuah pilihan menentukan kualitas pemilihnya. Pilihan yang buruk menunjukkan pengetahuan pemilih tentang pilihannya adalah seburuk yang ia pilih. Kalau begitu, kualitas parlemen yang selalu menjadi langganan berita acara KPK adalah cerminan dari kualitas pemilih pada pemilu 2004 lalu. Bagaimana dengan pemilu 2009? tergantung kualitas pemilih kali ini. Orang yang dengan sadar menerima uang panas dari seorang caleg pasti akan memilih caleg yang juga dengan sadar akan menerima uang panas dar i pihak lain. Begitulah, pemilih korup akan memilih politisi korup. Jika ada politisi busuk, itu karena ada pemilih busuk. Siapakah pemilih busuk itu? bisa siapa saja, asalkan bukan kita, karena kita adalah seorang muslim.
Seorang muslim akan memilih sesama muslim sebagai pemimpin, karena ia telah tunduk dan patuh pada ajaran Allah dan Rosul-Nya. Adakah seorang muslim yang rela dipimpin oleh non muslim? Bagi muslim, tidak ada perbedaan antara pemimpin negara dan pemimpin agama, pemimpin dunia dan pemimpin akhirat. Pemimpinn yang dibutuhkannya adalah pemimpin yang membimbing bagaimana bisa hidup didunia dengan baik agar bisa hidup diakhirat dengan baik pula. Pemimpin seperti itu hanya bisa dipenuhi oleh seorang muslim.
Ah, pertanyaan ini menggoda lagi, bagaimanakah membedakan antara pemimpin yang benar-benar muslim dan pemimpin yang mengaku muslim? Baiklah, barangkali kisah berikut ini bisa membantu menjawab,
Seorang sultan mengadakan perlombaan antara seniman Yunani dan Cina untuk menentukan siapa yang lebih baik. Keduanya diberikan sebuah ruangan untuk memperlihatkan bakatnya. Kedua ruangan itu berhadapan, pintunya terbuka. Orang cina mengambil salah satu, orang Yunani mengambil satunya lagi. Orang Cina meminta ratusan cat. Orang Yunani tidak meminta apa-apa karena telah berencana akan membersihkan dinding dari karat. Keduanya menutup pintu dan bekerja dengan rajin.
Setelah merampungkan pekerjaannya, orang Cina mulai memukul genderang gembira. Sang sultan dayang dan melihat lukisan mereka. Begitu melihatnya, ia tergetar oleh keindahan dan kemegahan seni itu. Lalu, ia pindah ke ruangan yang memamerkan keahlian orang Yunani. Orang Yunani menyingkapkan tirai sehingga pantulan lukisan orang Cina meneganai dinding yang telah dibersihkannya dari karat, sehingga dinding memantulkan karya orang cina. Apa yang dilihat sultan diruangan Cina tampak lebih indah di sini karena alih-alih mencoba meniru pekerjaan Pencipta, orang Yunani dapat memantulkan karya-Nya. Mata sultan sangat terkagum-kagum.
Dari kisah diatas, dan mengingat hati seseorang bagaikan cermin, saya menyimpulkannya begini,
Hanya dengan terus menerus memperbaiki diri kita bisa membedakan hal-hal baik dan hal-hal buruk.
Hanya dengan sungguh-sungguh menjadi muslim kita bisa membedakan antara muslim asli dan muslim palsu.
Nah, bagaimana dengan kesimpulan anda?
Pada pemilu kali ini, seperti anda, saya mempunyai niat memilih caleg baik dari partai baik. Apakah ada caleg dan partai baik? itu menjadi persoalan yang membutuhkan pembahasan di tempat lain. Yang dibahas disini adalah, memilih atau tidak memilih haruslah didasari oleh niat.
Ketika seorang muslim telah berniat memilih, itu berarti ia mengetahui benar: 1) mengapa memilih? dan 2) siapa yang dipilih? Apapun jawabannya, pasti berharga baginya, sehingga ia bersungguh-sungguh mewujudkan niatnya itu. Begitu juga ketika ia telah berniat tidak memilih alias golput.
MENGAPA MEMILIH?
Saya tidak ingin berdebat, manakah yang lebih baik, memilih atau tidak memilih? saya percaya, muslim yang berniat memilih telah melihat masih ada caleg baik dari partai baik yang pantas dipilih, ia khawatir seandainya caleg dan partai yang ia anggap baik itu tidak terpilih. Begitu juga dengan muslim yang berniat tidak memilih, ia telah melihat tidak ada satu pun yang pantas dipilih.
Jadi, masih adakah yang pantas dipilih pada pemilu 2009 ini? ah, pertanyaan semacam itu selalu saja menggoda untuk dijawab. Tapi sungguh, saya benar-benar tidak ingin berdebat tentang baik-buruk, benar-salah, pantas-tidak pantas.
SIAPA MEMILIH SIAPA?
Saya percaya, sebuah pilihan menentukan kualitas pemilihnya. Pilihan yang buruk menunjukkan pengetahuan pemilih tentang pilihannya adalah seburuk yang ia pilih. Kalau begitu, kualitas parlemen yang selalu menjadi langganan berita acara KPK adalah cerminan dari kualitas pemilih pada pemilu 2004 lalu. Bagaimana dengan pemilu 2009? tergantung kualitas pemilih kali ini. Orang yang dengan sadar menerima uang panas dari seorang caleg pasti akan memilih caleg yang juga dengan sadar akan menerima uang panas dar i pihak lain. Begitulah, pemilih korup akan memilih politisi korup. Jika ada politisi busuk, itu karena ada pemilih busuk. Siapakah pemilih busuk itu? bisa siapa saja, asalkan bukan kita, karena kita adalah seorang muslim.
Seorang muslim akan memilih sesama muslim sebagai pemimpin, karena ia telah tunduk dan patuh pada ajaran Allah dan Rosul-Nya. Adakah seorang muslim yang rela dipimpin oleh non muslim? Bagi muslim, tidak ada perbedaan antara pemimpin negara dan pemimpin agama, pemimpin dunia dan pemimpin akhirat. Pemimpinn yang dibutuhkannya adalah pemimpin yang membimbing bagaimana bisa hidup didunia dengan baik agar bisa hidup diakhirat dengan baik pula. Pemimpin seperti itu hanya bisa dipenuhi oleh seorang muslim.
Ah, pertanyaan ini menggoda lagi, bagaimanakah membedakan antara pemimpin yang benar-benar muslim dan pemimpin yang mengaku muslim? Baiklah, barangkali kisah berikut ini bisa membantu menjawab,
Seorang sultan mengadakan perlombaan antara seniman Yunani dan Cina untuk menentukan siapa yang lebih baik. Keduanya diberikan sebuah ruangan untuk memperlihatkan bakatnya. Kedua ruangan itu berhadapan, pintunya terbuka. Orang cina mengambil salah satu, orang Yunani mengambil satunya lagi. Orang Cina meminta ratusan cat. Orang Yunani tidak meminta apa-apa karena telah berencana akan membersihkan dinding dari karat. Keduanya menutup pintu dan bekerja dengan rajin.
Setelah merampungkan pekerjaannya, orang Cina mulai memukul genderang gembira. Sang sultan dayang dan melihat lukisan mereka. Begitu melihatnya, ia tergetar oleh keindahan dan kemegahan seni itu. Lalu, ia pindah ke ruangan yang memamerkan keahlian orang Yunani. Orang Yunani menyingkapkan tirai sehingga pantulan lukisan orang Cina meneganai dinding yang telah dibersihkannya dari karat, sehingga dinding memantulkan karya orang cina. Apa yang dilihat sultan diruangan Cina tampak lebih indah di sini karena alih-alih mencoba meniru pekerjaan Pencipta, orang Yunani dapat memantulkan karya-Nya. Mata sultan sangat terkagum-kagum.
Dari kisah diatas, dan mengingat hati seseorang bagaikan cermin, saya menyimpulkannya begini,
Hanya dengan terus menerus memperbaiki diri kita bisa membedakan hal-hal baik dan hal-hal buruk.
Hanya dengan sungguh-sungguh menjadi muslim kita bisa membedakan antara muslim asli dan muslim palsu.
Nah, bagaimana dengan kesimpulan anda?
Label:
aktifitas,
Cinta,
etos kerja muslim,
haram golput,
iman,
Islam,
Khalifah,
politik islam,
problema kemanusiaan,
spiritual parenting,
Spritualitas
Langganan:
Postingan (Atom)