Total Pengunjung

AYO MEMBACA ALQURAN SECARA BERMAKNA UNTUK MENATA KEHIDUPAN SEMESTA !!
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 April 2009

Berhenti Sejenak...(2)

BULATKAN TEKAD, SUCIKAN HATI, LANJUTKAN PERJALANAN

Suatu kali, Chuban Bustami, seorang teman di FB, mengirimkan gift berupa satu nama dari Al-Asma Al-Husna, yaitu Al-Jabbar: Maha Memaksa. Saya terus bertanya-tanya sendiri, mengapa Al-Jabbar, bukan nama-Nya yang lain? Apakah ia memilihnya begitu saja dengan tanpa bermaksud apa-apa? Mungkin ia begitu, tetapi Allah tidak begitu. Perbuatan-Nya tidak pernah terjadi sia-sia, tidak pernah tanpa maksud, melainkan ada satu tujuan tertentu. Rabbanaa maa khalaqta hadza baathila. Tanpa pernah menanyakan kepada sang pemberi, saya biarkan gift itu tertempel di wall profile saya, dengan harapan suatu hari nanti, saya memahami mengapa Al-Jabbar datang menyapa.

Di waktu yang lain, seorang teman di FB juga, Zainal Ahmad, datang secara pribadi tanpa bertemu muka. Ada satu fokus yang kami perbincangkan sampai akhirnya saya menemukan dari kalimat-kalimatnya 3 buah kata yang menghentak saya: nah ini dia: KHOLIQ-MAKHLUQ-AKHLAQ. Saya coba merangkai ketiga kata tersebut dalam benak saya: ketika KHOLIQ menyapa MAKHLUQ, maka Dia akan bertajalli dalam bentuk AKHLAQ.

Pada waktu yang lain lagi, saya bertanya-tanya lagi dalam hati: siapakah Al-Jabbar? Lalu saya mencari-Nya dibuku Laleh Bahktiar yang berjudul meneladani akhlak Allah melalui Al-Asma Al-Husna, dan saya menemukan di halaman 48:

"....Maha Memaksa (Al-Jabbar)....(QS. Al-Hasyr [59]: 23)
Maha Memaksa adalah sifat Allah yang memiliki kekuatan kehendak yang menguasai segala makhluq dan segala sesuatu, sementara tak ada kekuatan kehendak yang menguasai-Nya. Tak ada yang bebas dari kekuatan ini. Kehendak Allah itu mutlak dan hal ini menjadikan kebesaran Allah berada di atas segala wujud lain. Melalui kehendak-Nya, Allah memaksa makhluk-Nya untuk mematuhi nasihat-nasihat-Nya yang positif (amar bi al ma'ruf) atau perintah-Nya dan mencoba mencegah perkembangan yang negatif (nahy 'an al-munkar) atau larangan-Nya. Nasihat ini merupakan bagian dari sifat naluriah yang terkandung dalam makhluk dan benda. Nasihat ini membuat makhluk cenderung mengikuti kehendak Allah. Pada tingkat tertinggi kecenderungan ini, ia akan menyadari jiwanya, yang kemudian digunakannya untuk bersaksi tentang Sang Pencipta. Tentu Allah sanggup memaksa semua makhluk, tetapi tak ada yang memaksa Dia. Tak ada seorang pun di dunia ini yang mendekati kekuatan Allah dan ketakterjangkauan-Nya. Menurut Al-Ghazali, sifat ini paling baik menggambarkan Muhammad saw."

dan dihalaman 99:

"Dengan menjelmakan bagian dari sifat Maha Memakasa (Al-Jabbar), ia menemukan bahwa dengan menyempurnakan kehendak Allah, ia akan memiliki kesadaran yang diperlukan untuk memahami apa yang ingin dilakukannya, menemukan kekuatan kehendaknya, dan bertindak.
Tekad ksatria ruhani menuju yang Maha Memaksa adalah bergerak menuju penyembuhan dengan mulai menyucikan hatinya, menghiasinya dengan perbuatan terpuji. Ia kini memasuki proses kreatif dan melalui proses ini ia bertekad untuk menciptakan kembali atau mewujudkan fitrah Allah yang dibawanya sejak lahir."

Akhirnya, yang harus kita lakukan setelah menemukan identitas sebagai hamba Allah dan wakil-Nya adalah membulatkan tekad mewujudkan identitas tersebut dengan mulai menyucikan hati dan menghiasi diri dengan perbuatan terpuji.

Saya, Chuban Bustami, Zainal Ahmad dan Laleh Bakhtiar belum pernah bertatap muka dan suara sampai saat ini, namun Allah swt, dengan cara-Nya, menghendaki kami bertemu di jalan menuju kepada-Nya, subhanallah, semoga Allah merahmati mereka.

Dan...perjalanan MENJADI MUSLIM APA ADANYA kembali dimulai.....

Senin, 30 Maret 2009

Muslim Memilih

Bagi seorang muslim, selalu ada niat yang mendasari perbuatannya. Ia tidak akan bertindak tanpa mengetahui niatnya terlebih dahulu. Ini dikarenakan niat lebih dihargai daripada tindakan. Rosulullah saw bersabda, setiap perbuatan harus disertai dengan niat. Begitu juga ketika muslim membuat pilihan.

Pada pemilu kali ini, seperti anda, saya mempunyai niat memilih caleg baik dari partai baik. Apakah ada caleg dan partai baik? itu menjadi persoalan yang membutuhkan pembahasan di tempat lain. Yang dibahas disini adalah, memilih atau tidak memilih haruslah didasari oleh niat.

Ketika seorang muslim telah berniat memilih, itu berarti ia mengetahui benar: 1) mengapa memilih? dan 2) siapa yang dipilih? Apapun jawabannya, pasti berharga baginya, sehingga ia bersungguh-sungguh mewujudkan niatnya itu. Begitu juga ketika ia telah berniat tidak memilih alias golput.

MENGAPA MEMILIH?

Saya tidak ingin berdebat, manakah yang lebih baik, memilih atau tidak memilih? saya percaya, muslim yang berniat memilih telah melihat masih ada caleg baik dari partai baik yang pantas dipilih, ia khawatir seandainya caleg dan partai yang ia anggap baik itu tidak terpilih. Begitu juga dengan muslim yang berniat tidak memilih, ia telah melihat tidak ada satu pun yang pantas dipilih.

Jadi, masih adakah yang pantas dipilih pada pemilu 2009 ini? ah, pertanyaan semacam itu selalu saja menggoda untuk dijawab. Tapi sungguh, saya benar-benar tidak ingin berdebat tentang baik-buruk, benar-salah, pantas-tidak pantas.

SIAPA MEMILIH SIAPA?

Saya percaya, sebuah pilihan menentukan kualitas pemilihnya. Pilihan yang buruk menunjukkan pengetahuan pemilih tentang pilihannya adalah seburuk yang ia pilih. Kalau begitu, kualitas parlemen yang selalu menjadi langganan berita acara KPK adalah cerminan dari kualitas pemilih pada pemilu 2004 lalu. Bagaimana dengan pemilu 2009? tergantung kualitas pemilih kali ini. Orang yang dengan sadar menerima uang panas dari seorang caleg pasti akan memilih caleg yang juga dengan sadar akan menerima uang panas dar i pihak lain. Begitulah, pemilih korup akan memilih politisi korup. Jika ada politisi busuk, itu karena ada pemilih busuk. Siapakah pemilih busuk itu? bisa siapa saja, asalkan bukan kita, karena kita adalah seorang muslim.

Seorang muslim akan memilih sesama muslim sebagai pemimpin, karena ia telah tunduk dan patuh pada ajaran Allah dan Rosul-Nya. Adakah seorang muslim yang rela dipimpin oleh non muslim? Bagi muslim, tidak ada perbedaan antara pemimpin negara dan pemimpin agama, pemimpin dunia dan pemimpin akhirat. Pemimpinn yang dibutuhkannya adalah pemimpin yang membimbing bagaimana bisa hidup didunia dengan baik agar bisa hidup diakhirat dengan baik pula. Pemimpin seperti itu hanya bisa dipenuhi oleh seorang muslim.

Ah, pertanyaan ini menggoda lagi, bagaimanakah membedakan antara pemimpin yang benar-benar muslim dan pemimpin yang mengaku muslim? Baiklah, barangkali kisah berikut ini bisa membantu menjawab,

Seorang sultan mengadakan perlombaan antara seniman Yunani dan Cina untuk menentukan siapa yang lebih baik. Keduanya diberikan sebuah ruangan untuk memperlihatkan bakatnya. Kedua ruangan itu berhadapan, pintunya terbuka. Orang cina mengambil salah satu, orang Yunani mengambil satunya lagi. Orang Cina meminta ratusan cat. Orang Yunani tidak meminta apa-apa karena telah berencana akan membersihkan dinding dari karat. Keduanya menutup pintu dan bekerja dengan rajin.

Setelah merampungkan pekerjaannya, orang Cina mulai memukul genderang gembira. Sang sultan dayang dan melihat lukisan mereka. Begitu melihatnya, ia tergetar oleh keindahan dan kemegahan seni itu. Lalu, ia pindah ke ruangan yang memamerkan keahlian orang Yunani. Orang Yunani menyingkapkan tirai sehingga pantulan lukisan orang Cina meneganai dinding yang telah dibersihkannya dari karat, sehingga dinding memantulkan karya orang cina. Apa yang dilihat sultan diruangan Cina tampak lebih indah di sini karena alih-alih mencoba meniru pekerjaan Pencipta, orang Yunani dapat memantulkan karya-Nya. Mata sultan sangat terkagum-kagum.

Dari kisah diatas, dan mengingat hati seseorang bagaikan cermin, saya menyimpulkannya begini,
Hanya dengan terus menerus memperbaiki diri kita bisa membedakan hal-hal baik dan hal-hal buruk.
Hanya dengan sungguh-sungguh menjadi muslim kita bisa membedakan antara muslim asli dan muslim palsu.
Nah, bagaimana dengan kesimpulan anda?

Sabtu, 21 Maret 2009

Memasuki Permainan...

Setiap malam kamis, saya menyelenggarakan pengajian karyawan, dimulai dengan sholat Maghrib berjamaah dan ditutup dengan sholat Isya berjamaah. Hanya sebentar, tapi saya berharap keberkahan sholat berjamaah akan memberikan kesan-kesan pengajian yang berbekas pada aktifitas kerja sehari-hari.

Malam kamis itu, kami berkumpul duduk melingkar untuk menghilangkan kesan perbedaan status antara pimpinan dan karyawan, dan yang lebih penting lagi, menghilangkan jarak antara guru dan murid. "Di pengajian ini tidak ada guru dan tidak murid, semuanya bisa menjadi guru dan sekaligus juga bisa menjadi murid. Kita berbicara dan kita juga mendengarkan, malah kalau bisa usahakan lebih banyak mendengar agar kita bisa lebih banyak menerima. Berbicara hanyalah sekedar menguji batas pengetahuan yang bisa saja salah, lalu kita menjadi terbuka untuk mendengarkan masukan-masukan." Demikian saya sampaikan cara mengaji kepada mereka.

Sesungguhnya pengajian ini digelar bukan untuk mereka saja, tetapi untuk saya juga. Saya ingin menyampaikan kepada mereka tentang realitas kehidupan: dari mana, mengapa, bagaimana, untuk apa dan mau kemana. di samping itu, saya juga ingin mendapatkan dari mereka, karena bukan hanya saya yang telah bergumul dengan kehidupan, mereka juga. Saya berharap, pengajian ini akan melahirkan gagasan kehidupan dari perkawinan dua gagasan, yaitu gagasan kehidupan yang sedang saya rasakan dan gagasan kehidupan yang terpendam yang ingin saya bangkitkan dari mereka. Maka, tujuan pengajian ini adalah untuk menemukan. Bukan saya atau mereka yang menemukan, tetapi kami secara bersama-sama yang telah menemukan, sehingga kami bisa berkata, inilah kebenaran yang kami dapatkan, lalu kenapa kami enggan menerapkannya?

Malam kamis itu, kami berbicara tentang film, sinetron, dan sandiwara, yang begitu manarik perhatian untuk terus ditonton. kadang kita ikut hanyut terbawa aliran cerita. Kita ikut semangat, bersedih, dan emosi kita larut bersama emosi para pemain film itu. Padahal, film itu cuma cerita imajinasi, cuma pembagian peran yang disengaja. Di film, mereka yang kaya tidak benar-benar kaya, mereka yang miskin juga tidak benar-benar miskin. Mereka yang berperan sebagai orang baik atau orang hebat, pada kenyataannya tidak sebaik atau sehebat itu. begitu juga dengan peran jahat, kenyataannya mereka tidak sejahat itu.

"Itu karena mereka memainkan peran dengan sungguh-sungguh. Kalau mereka tidak sungguh-sungguh berperan, film tidak akan menarik ditonton, boleh jadi mereka pun akan dipecat sebagai pemain." Saya bilang begitu, dan saya lempar pertanyaan,"mengapa mereka mau dan bisa berperan dengan sungguh-sungguh?"

Beragam jawaban muncul: mereka dibayar, diberi imbalan. Mereka sudah tahu jalan ceritanya sudah baca skenarionya. Ada sutradara yang mengarahkan. Sudah melalui proses editing, acting yang jelek dibuang dan diambil yang bagus.

"Nah, hidup ini juga film seperti itu. Ada banyak peran yang dimainkan dalam hidup ini. Apa peran kita? Sudahkah kita sungguh-sungguh memainkan peran itu? Mengapa tidak sungguh-sungguh berperan? Atau malah kita belum tahu peran kita sebenarnya? Mengapa film kehidupan kita ini jadinya tidak menarik? padahal kita juga diberikan imbalan, diberikan skenario, ada sutradara yang mengarahkan, diberi kesempatan mengedit acting kehidupan kita sendiri. Seperti lazimnya setiap permainan, kita harus bermain dengan sungguh-sungguh, kalau sekedar main-main kita akan kalah, jeleknya kita akan dikeluarkan dari permainan dan akan digantikan dengan pemain lainnya. Hidup ini juga permainan, jadi bermainlah dengan sungguh-sungguh, jangan main-main.

Allah swt menyifati dunia sebagai permainan. Dan kita telah memasuki arena permainan ini, maka harus kita menangkan. Bagaimana caranya? Begini, Pertama, kita harus bertanya dengan jujur kepada diri kita sendiri, seandainya kita telah memainkan peran kehidupan ini dengan sungguh-sungguh, imbalan apa yang kita inginkan? Mereka, para pemain itu, mengetahui dengan pasti berapa besar bayaran mereka sehingga mereka sungguh-sungguh bermain dan bertekad memenangkan permainan atau membat permainan mejadi menarik dilihat. Nah, imbalan apa yang kita inginkan? Biarlah imbalan itu menjadi motivasi dari kesungguhan-kesungguhan yang kita persembahkan."

Pertanyaan itu mengetuk satu demi satu pintu hati para peserta pengajian. Ada yang berkata: saya ingin mendapatkan kesenangan. Apapun yang saya lakukan, hasilnya harus dapat membuat saya senang. Yang lain berkata: saya ingin terus mendapatkan hidayah dan rahmat-Nya. Saya ingin menggapai cita-cita. Saya ingin tetap hidup dalam kenangan orang lain sebagai orang baik. Saya ingin doa-doa saya dikabulkan. Saya ingin selalu diberikan kecukupan. Saya ingin... apapun itu, biarlah menjadi pamrih awal yang mendorong setiap perbuatan. Siapakah yang berbuat tanpa pamrih? Apapun pamrih yang muncul, itu pasti berasal dari kebutuhan dan pengetahuan yang berbeda-beda. Bentuk pamrih akan berkembang seiring dengan berkembangnya kebutuhan dan pengetahuan. Persoalan penting sekarang adalah mereka telah mengetahui apa yang akan mereka peroleh jika mereka berhasil memahami peran kehidupan mereka dan memainkannya dengan sungguh-sungguh.

Perjalanan menemukan identitas diri telah dimulai. Awali dengan Bismillahirrahmannirrahim karena kita membutuhkan hidayah-Nya, rahmat-Nya, kebersamaan-Nya, pengawasan-Nya, kedermawanan-Nya dan segala-galanya dari Dia, yaitu Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Karena Dia dengan kasih sayang-Nya mengetahui ketidakberdayaan kita dan mengetahui kebutuhan kita. Maka kalimat Bismillahirrahmannirrahim menjadi mantra pemusnah kesombongan, sifat egois, dan sifat sok tahu.

Selasa, 17 Maret 2009

Menghamba dengan tulus, Menjadi Manusia Ilahi, Wujudkan Khilafah

Seorang muslim yang melakukan ziarah terus menerus kedalam dirinya akan mendapati sebuah fakta bahwa ia adalah HAMBA ALLAH dengan kewajiban mengabdi semurni-murninya sekaligus juga, pada waktu yang sama, ia adalah WAKIL ALLAH dengan kewajiban mengurusi kesejahteraan kehidupan bumi.

Menjadi HAMBA ALLAH menarik kita memasuki ruang sunyi kehidupan. Yang dilakukannya adalah berdiam diri dalam situasi dan kondisi yang hening. Ia khusuk menghamba, merendahkan diri, menjadi tak berdaya, tunduk dalam kuasa dan kehendak-Nya, lenyap dalam keesaan-Nya. Ia tak menyisakan sesuatu sedikitpun dari dirinya, olehnya dan untuknya. Ia mengharap jika diperkenankan, meminta jika dikehendaki, mengada karena diadakan, memiliki karena diberi. Perkataannya semata adalah la haula wa laa quwwata illa billah, tidak ada daya dan upaya kecuali dari Allah, bersama Allah, dan oleh Allah.

Dan menjadi WAKIL ALLAH membawa kita pada keramaian kata, hiruk-pikuk kebutuhan, lantas ia tidak menjadi terasing dari lingkungannya. Yang dilakukannya adalah terus berfikir, terus bergerak, dan terus bergumul dengan realitas kehidupan. Ia mengada dengan segenap potensi dan memberdayakan segala sumber potensi baik internal maupun eksternal. Aktifitas hariannya adalah: menatap, memperhatikan, melindungi, mencurahkan, mengatasi, mengurusi, memberi, dan membimbing dirinya dan sesamanya. Ia laksana mata air yang senantiasa menyemburkan air segar, menyegarkan dan menghidupkan sekitar.

Sebagai HAMBA ALLAH seorang muslim terus menatapi langit dengan mewujudkan semua sifat-sifat penghambaan agar ia mendapatkan perhatian dan pengurusan dari yang Maha Mengurusi. Pada saat itu juga ia tetap menapaki bumi sebagai WAKIL ALLAH dengan menjelmakan semua sifat-sifat ketuhanan, menjadi manusia ilahi (pinjam istilah Murtadha Muthahari) lalu mengurusi dirinya dan sesamanya.

Seorang muslim menampakkan penghambaannya melalui tindak perbuatan jasmaninya. Sifat penghambaannya muncul saat ia bertindak. Tidak ada yang mengetahui kepada siapa seorang muslim menghamba kecuali setelah melihat tingkah laku hariannya. Penghambaannya kepada yang Maha Lembut (Al-Lathif) muncul dalam caranya berhubungan dengan orang lain. Penghambaannya kepada Allah muncul dalam caranya menjelmakan sifat-sifat Allah. Pada saat itulah fungsi hamba dapat mengukuhkan fungsi wakil. Dengan kata lain, tidak bisa ia menjadi WAKIL ALLAH sebelum ia benar-benar menghamba kepada-Nya.

Sampai disini kita memahami bahwa kekhalifahan kita adalah menjadi HAMBA ALLAH sekaligus juga menjadi WAKIL ALLAH pada tempat dan waktu yang sama. Dan kekhalifahan itu bisa diwujudkan melalui penghambaan yang sungguh-sungguh kepada-Nya dan tak menyekutukan-Nya dengan apa pun (QS. 24:55)

-----------
Sumber bacaan:
1. Laleh Bakhtiar, Meneladani Akhlak Allah Melalui Al-Asma Al-Husna, penerjemah: Femmy Syahrani, Mizan: 2002, Cet.1
2. Murtadha Muthahari, Kumpulan Artikel Pilihan, penerjemah: M.J. Bafaqih, Lentera: 2003, Cet.1

Minggu, 15 Maret 2009

Mengapa Kita Pantas Menjadi Wakil Tuhan? (2)

Hal kedua yang membuat manusia menjadi istimewa adalah Allah meniupkan ruh ke dalam diri manusia dari ruh-Nya sendiri. Allah swt berfirman: "Dan ingatlah, ketika Tuhanmu bergirman kepada para malaikat, "sesungguhnya aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan telah meniupkan di dalamnya ruh-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud." (QS. 15:28-29).

Bagian ini menarik dan penting dibicarakan. Manusia dalam pandangan Aristoteles adalah zoon logon echon, maksudnya: makhluk yang memiliki ruh, tetapi bukan makhluk rohani murni. Manusia memiliki jasmani yang membungkus kerohaniannya. Jadi, manusia adalah makhluk rohani-jasmani. Jadi sebenarnya, dalam diri manusia yang satu terdapat dua manusia, yaitu manusia rohani dan manusia jasmani.

Keduanya, yaitu manusia rohani dan manusia jasmani atau bisa juga disebut manusia spiritual dan manusia material berada didalam satu diri, yaitu manusia. Kita tidak bisa hanya mementingkan sisi material yang ada dalam diri kita, yang karenanya kita terus menjadi material oriented. Atau sebaliknya, kita juga tidak bisa mengabaikan sisi jasmani, sehingga kita hanya selalu berhubungan dengan dunia rohani dengan berperilaku asketisme.

Melalui pengetahuan, manusia mempunyai jalan untuk berhubungan dengan alam semesta, termasuk dengan sesama manusia di dalamnya. Dan dengan adanya ruh, manusia mempunyai jalan untuk berhubungan dengan Tuhan. Dengan memahami kedua potensi istimewa tersebut, kita dapat menerima alasan mengapa manusia terpilih sebagai pemelihara, pengatur dan bertanggung jawab atas segala urusan-urusan bumi.

Berkaitan dengan upaya mengenal diri, kini dapatlah kita menjawab pertanyaan-pertanyaan yang pernah kita ajukan, yaitu tentang siapa kita, mengapa kita ada di bumi.

Begini,
Kita adalah makhluk yang diciptakan Tuhan dengan beberapa keistimewaan yang tidak dimiliki oleh makhluk lainnya. Dengan keistimewaan itu, kita diberi amanat mengatur peradaban bumi, menjaga keseimbangan hidup, dan menyelesaikan problem-problem kemanusiaan.

Allah menciptakan setiap orang sebagai penanggung jawab bumi dalam batas dan ruang lingkupnya masing-masing. Tidak bisa setiap orang menjadi penguasa, tapi setiap orang bisa ikut bertanggung jawab dalam pengelolaan bumi sesuai dengan perannya masing-masing. Rosul saw bersabda: Setiap orang adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungan-jawab atas kepemimpinannya. Karena itu, setiap orang mempunyai peran untuk ikut andil mengatasi problema-problema kemanusiaan. Paling tidak, menagtasi problema kemanusiaannya sendiri. Dan untuk itu semua, setiap orang akan dimintai pertanggung-jawaban atas perannya masing-masing. Allah berfirman: Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya kami menciptakan kamu secara main-main saja, dan bahwa kamu tidak dikembalikan kepada Kami?" (QS. 23:115). "Tidaklah Engkau menciptakan semuanya dengan sia-sia." (QS. 3:191).

Berat! memang. Bahkan setiap makhluk menolak amanat ini. Mereka khawatir akan berkhianat (QS. 33:72) Dan kita, manusia, menerimanya. Sudahkah kita menunaikan amanat itu Pertanyaan lebih tepatnya: Sudahkah kita menjadi khalifah-Nya? Sudahkah kita menjadi wakil-Nya dalam menyelesaikan segala macam permasalahan bumi ini? Pada kenyataannya, kita masih melihat banyak orang kelaparan, menderita sakit tak terobati, terjerat hutang tak ada habisnya, kemiskinan, kebodohan , dan problem kemanusiaan lainnya.

Apakah ada yang salah? jelas ada yang salah. Berita tentang kekhalifahan langsung kita terima dari teks yang kita yakini asli dari Tuhan dan kita yakini pula suci dari kesalahan dan kebohongan. Dari teks tersebut kita memperoleh janji: "Dan Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dikalanganmu dan orang-orang yang melakukan kebaikan bahwa Dia akan benar-benar mengangkat mereka sebagai khalifah di bumi, seperti sebelumnya Dia pernah mengangkat khalifah, dan bahwa Dia benar-benar akan memantapkan agama mereka yang telah diridhoi-Nya untuk mereka dan bahwa Dia benar-benar akan mengganti ketakutan mereka sebelumnya dengan ketenangan....." (QS. 24:55)

Demikian janji Allah. Dengan adanya penanggung jawab bumisegala permasalahan bumi dan segala problema kemanusiaan seharusnya terselesaikan. Tapi itu dapat terwujud setelah kita memenuhi persyaratan yang diajukan-Nya dalam lanjutan ayat diatas, yaitu:"...hendaknya mereka tetap mengabdi kepada-Ku dan tidak menyekutukan Aku dengan apa pun."

Kedua syarat yang diajukan Tuhan, yaitu: (1) tetap mengabdi kepada-Nya, dan (2) tidak menyekutukan-Nya dengan apapun, mau tidak mau harus dipenuhi agar kita mendapatkan kesuksesan sebagai pengelola bumi.

Senin, 09 Maret 2009

Kenali Dirimu!

Pada saat kita mengenali diri sebagai muslim, kita mendapati tugas penciptaan, yaitu: sebagai hamba Tuhan dan sekaligus juga sebagai wakil Tuhan. Tidak ada masalah saat menjadi hamba Tuhan, karena yang ada hanyalah hening dalam kesendirian menikmati rahmat Tuhan yang begitu meliputi. Kita menjadi asyik dalam mihrab kita sendiri. Tapi, saat menjadi wakil Tuhan, kita mendapati begitu banyak masalah yang menanti penyelesaian. Saat itu, kita tidak sendiri, tapi ada di tengah orang-orang banyak. Bersama mereka, kita mendapati begitu banyak kebutuhan, keinginan dan kepentingan yang menuntut dipenuhi. Di tengah-tengah mereka, dimana kita ? siapa kita ? Apa peran kita ? Nah, saat itulah kita membutuhkan pengetahuan tentang diri kita sendiri.

Perkenalkan nama saya Sutrisno, lahir di Jakarta, berdomisili di Jl………, begitu ? Bukan, itu mah mengenal isi KTP. Mengenal diri sendiri bukan berarti mengenal isi KTP. Meskipun itu juga penting untuk urusan-urusan administrasi supaya tidak terkena razia yustisi.

Untuk hidup dan bergaul dalam kehidupan ini, tidak cukup hanya bermodalkan KTP dan hafal isinya. Buktinya, masih banyak orang bingung hidup ini buat apa ? Mau kemana ? Apa yang paling penting dalam hidup ini ? Kenapa ada orang yang sangat mencintai hidupnya atau sangat membencinya atau juga tidak peduli dengannya ?

Nah, mengenal diri berarti menemukan jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tentang eksistensi diri, seperti : adakah aku ? Kalau ada, darimana dan mau kemana aku ? Itu berarti, mengenal diri adalah upaya melihat jauh ke dalam diri sendiri, diri sebagai manusia. Manusia yang bukan seorang manusia di satu tempat dengan identitas dan warna kulit tertentu, melainkan diri sebagai manusia secara universal, menyeluruh.

Mengenal diri berarti juga mengenal hakikat diri kemanusiaannya, maksud dan tujuan penciptaannya, menemukan di mana posisinya di antara makhluk-makhluk ciptaan Tuhan lainnya yang bukan manusia.

Siapakah kita ? Dia antara makhluk Tuhan yang tersebar di alam semesta ini, kita adalah manusia, makhluk yang yang diciptakan untuk mengurusi bumi, kita adalah penanggung jawab bumi.

Ingatlah ketika Tuhan berkata kepada para Malaikat :

“ Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang Khalifah di muka Bumi,”Mereka bertanya : mengapa Engkau hendak menjadikan seorang Khalifah di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau ?” Tuhan berfirman : “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. 2:30)

Dan, Dia benar-benar telah menciptakan Adam dan menjadikannya khalifah di bumi. Khalifah di bumi bisa kita pahami sebagai penanggung jawab segala macam urusan yang ada di bumi, yaitu membangun peradaban, menjaga keseimbangan ekosistem lingkungan hidup dan mengatasi problem-problem kemanusiaan seperi kemiskinan, pendidikan, keadilan, kesetaraan dan sebagainya,

Saat itu, Malaikat menyangsikan kemampuan manusia. Bagaimana mungkin manusia mampu menjaga harmonisasi alam semesta, sementara mereka suka berbuat kerusakan dan saling menumpahkan darah sesama mereka ? Mereka berkelahi meskipun mereka tidak saling mengenal. Allah tidak menyangkal dan juga tidak membenarkan kesangsian para malaikat. Dia hanya berkata, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Ada apa sebenarnya? Allah memiliki makhluk-makhluk yang senantiasa bertasbih dengan memuji dan mensucikan-Nya, tapi Dia hendak menciptakan makhluk lain, dan malah, memberinya tugas besar, bahkan para malaikat diperintahkan bersujud kepadanya ? Ada apa ? Tentu ada karunia Allah yang membuat manusia berada dan menjadi istimewa dari pada yang lain-lainnya, dan karunia itu pasti istimewa.

Kamis, 07 Agustus 2008

Menjadi Muslim Apa Adanya


Muslim adalah orang yang berkata: aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan aku besaksi pula bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Perkataan itu bukanlah sekedar kata-kata yang terucap begitu saja sehingga menjadi kata yang tak berarti, baik bagi yang mengucapkannya maupun bagi yang mendengarkannya. Tapi kata-kata itu terucap atas dasar pengetahuan, kesadaran dan cinta.
Penyebutan seseorang dengan identitas muslim bukan akibat dari pengucapan dua kalimat syahadat itu, tapi akibat dari pengetahuan, kesadaran dan cinta yang membuatnya terdorong untuk mengucapkannya. Apa yang diucapkannya hanyalah bentuk lahir dari pengetahuan, kesadaran dan cinta yang tertanam di hatinya terhadap realias ketuhanan dan kenabian.
Pengetahuan tentang Tuhan yang diperoleh muslim dari seorang yang sengaja diutus Tuhan untuk mengajarkan pengetahuan itu, menumbuhkan kesadaran dalam dirinya. Sadar akan posisi dirinya di tengah-tengah alam semesta. Jika alam semesta tengah bergerak dengan teratur menurut hukum yang ditetapkan untuknya (kita sering menyebutnya hukum alam) maka orang itu juga menyadari bahwa ia juga bergerak berdasarkan hukum yang ditetapkan untuknya pula. Timbul kesadaran bahwa alam semesta, orang itu, dan kita bergerak berdasarkan satu ketetapan tertentu, menuju ke satu tujuan. Dari situ, timbullah cinta. Aktifitasnya adalah merindukan. Rindu akan satu tujuan yang dituju oleh semua bagian alam semesta, yaitu Tuhan.
Pengetahuan, kesadaran dan cinta itulah Allah, tuhan semesta alam yang membentuk kita menjadi muslim. Simbolnya adalah pengakuan terhadap keesaan Allah dan kenabian Muhammad SAW.
Makna menjadi muslim adalah menjadi orang yang tunduk dalam kepasrahan. Pasrah lahir-batin, rohani-jasmani. Kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah adalah simbol kepasrahan rohani. Sedangkan kesaksian bahwa nabi Muhammad adalah utusan Allah adalah simbol kepasrahan jasmani.
Tuhan adalah semua kecenderungan atau kegandrungan hati. Hati kita memiliki kecenderungan terhadap kekuatan, kekuasaan, kekayaan, kepandaian, kecantikan dan sebagainya. Jika semua itu atau sebagiannya tidak dimiliki maka hati cenderung ingin memilikinya. Apabila hati cenderung terhadap kekuasaan, maka kita selalu ingin meraih kekuasaan, sekecil apapun, atau paling tidak kita ingin dekat penguasa.
Setelah kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, semua kecenderungan hati itu menjadi hilang. Tidak ada kecenderungan selain Allah. Satu-satunya kecendeungan hati hanyalah Allah. Apabila hati menginginkan keindahan maka hati menginginkan Allah yang Maha Indah, dan seterusnya. Lantas hati menjadi pasrah kepada Allah karena Allah memiliki semua yang dinginkan hati. Hati yang pasrah senantiasa mengingat Allah. Oleh karenanya, hati menjadi tenang. Karena ia mengetahui, menyadari dan mencintai kecenderungan sejatinya yaitu Allah.

”(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. 13:28)

Al Qur’an banyak menyebut hati dengan istilah Qalbu. Makna dasarnya adalah : membalik, kembali, pergi maju-mundur, berubah, naik-turun, mengalami perubahan. Singkatnya, hati adalah tempatnya keresahan. Hati menjadi resah gelisah karena menginginkan ini dan itu. Setelah menyatakan kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, hati menjadi tenang, karena tidak ada lagi ini dan itu, yang ada hanyalah Allah.
Mulai dari sini kita bisa mengatakan bahwa satu-satunya pekerjaan hati adalah senantiasa mengingat Allah. Kepasrahan hati adalah menyerahkan semua kecenderungannya kepada Allah, tiada yang lain selain dia.
Selain pasrah hati, muslim juga harus pasrah lahir. Karena itu, kesaksian pertama terangkai dengan kesaksian kedua, yaitu kesaksian tentang kenabian Muhammad SAW. Sebagai simbol penyerahan diri, kedua kalimat kesaksian itu harus dinyatakan sekaligus secara berurutan. Tidak boleh menyatakan yang pertama saja atau yang kedua saja, harus kedua-duanya secara berurutan
Setelah menyerahkan kecenderungan hati, muslim harus menyerahkan aktifitas tubuh. Dengan demikian, tidak ada aktifitas yang dilakukan oleh tubuh kecuali aktifitas yang telah Allah tetapkan melalui Nabi-Nya, Muhammad SAW, yang disebut dengan syariat. Dengan demikian, penyerahan diri seorang muslim adalah penyerahan total meliputi sisi rohani dan jasmani.
“Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: "Tunduk patuhlah!" Ibrahim menjawab: "Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam". Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya`qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam". (QS. 2 :131-132)

Kita perlu kembali menegaskan tentang pengucapan dua kalimat kesaksian sebagai simbol penyerahan diri dan kedua-duanya harus diucapkan sekaligus secara berurutan. Penegasan ini penting mengingat kabar yang disampaikan Al Qur’an mengenai orang-orang Arab badui. Mereka menyerahkan diri secara simbolik tanpa di dasari oleh pengetahuan, kesadaran dan cinta yang timbul di dalam hati. (QS 49:14)
Mungkin, kita akan menjadi muslim seperti orang-orang Arab Badui itu ; penyerahan diri sebatas penyerahan jasmani tanpa disertai dengan penyerahan rohani. Tubuh kita sibuk dengan segala aktifitas syariat dan untuk itu keringat dan darah boleh saja tertumpah.
Atau mungkin, kita bisa saja menjadi muslim yang sebaliknya, menyerahkan diri rohani tanpa diri jasmani. Mendekat kepada Tuhan tetapi menjadi asing bagi makhluk-makhluk Tuhan.
Dari kedua muslim yang disebutkan dia atas, manakah model yang memenuhi tujuan penciptaannya, yaitu menjadi hamba Tuhan sekaligus menjadi wakil-Nya, bertanggung jawab atas semua urusan pengelolan bumi ? tidak satu pun !
Muslim model pertama tidak akan mendapatkan janji Allah, bahwa dia akan mendapatkan penguasaan bumi bilamana dia mengabdi kepada Allah dengan tidak menyekutukannya dengan apapun. Mengapa ? karena muslim model pertama ini, mengabdi secara fisik sedangkan hatinya dipenuhi kecenderungan selain Allah. Tentang muslim model kedua, bagaimana dia bisa menjadi penanggung-jawab bumi sedangkan dirinya saja terasing dari komunitas bumi ?
Sang penanggung-jawab bumi adalah manusia yang menyerahkan hatinya hanya kepada Allah dan pada saat yang sama ia juga menyerahkan badannya kepada syariat Allah yang disampaikan-Nya melalui Nabi Muhammad SAW. Hatinya tertuju pada Allah, dan badannya mengikuti gerak langkah Muhammad SAW.
Penyerahan rohani yang disimbolkan dengan pengucapan kalimat kesaksian pertama di dahulukan daripada penyerahan jasmani yang disimbolkan dengan pengucapan kalimat kesaksian kedua.
Manusia terdiri dari dua diri, yaitu diri rohani dan diri jasmani Keduanya harus ada untuk bisa disebut manusia. Walaupun demikian, rohani lebih utama daripada jasmani. Rohani ditiupkan langsung dari roh Tuhan sedangkan jasmani berasal dari tanah liat yang diberi bentuk. Rohani naik ke langit sedangkan jasmani terpendam di dalam bumi.
Rohani menjadi penting karena disitulah Allah memandang manusia dan menampakkan realitas-Nya. Banyak teks-teks suci yang menerangkan bahwa rohani lebih penting daripada jasmani.
Nabi berkata melalui kabar dari Imam Muslim : “ Allah tidak melihat badanmu atau bentukmu, melainkan keadaan hatimu. Allah berfirman : “ dan tidak ada dosa atasmu jika kamu berbuat salah, tetapi apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS.33:5) “Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak disengaja, tetapi Allah menghukum kamu disebabkan sumpah yang disengaja oleh hatimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha penyantun.” (QS2:225) “Allah tahu apa yang ada di dalam hatimu.”(QS.33:51). “Orang-orang munafik itu takut, jika diturunkan sebuah surat yang mengungkapkan apa-apa yang tersirat dalam hati mereka.”(QS.9:64)
Nabi berkata dalam hadits Qudsi : “langit-Ku dan bumi-Ku tidak memelukku, namun hati hamba-Ku yang lembut dan sabar dengan imannya benar-benar merengkuh diri-Ku.”

Allah berfirman :
“ maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (QS. 22:46)
“…Memang hati mereka telah kami tutup sehingga mereka tidak dapat memahaminya…” (QS.18:57)
“ Apakah mereka tidak merenungkan isi Al Qur’an, atau adakah hati mereka yang terkunci (QS. 47:24)
“ Sesungguhnya di situ terdapat peringatan bagi mereka yang memiliki hati dan menggunakan pendengarannya, sebab mereka menyaksikan menyaksikannya sendiri” (QS.50:37)
“ Janganlah kamu turutkan orang yang hatinya telah kami alpakan dari mengingat kami, orang yang hanya mengikuti hawa nafsunya saja, dan keadaan orang itu sudah keterlaluan” (QS.18:28). “ Sesungguhnya telah kami sediakan untuk penghuni neraka itu banyak jin dan manusia, mereka mempunyai hati tetapi tidak di gunakan untuk memahami ayat-ayat Tuhan.” (QS.7;179)
Nabi berkata : “Sesungguhnya Tuhan menghidupkan hati melalui cahaya kebijaksanaan.” “Keimanan telah ditetapkan Tuhan ke dalam hatinya, serta dikokohkan pula dengan ruh dari dirinya.” (QS.58:22)
“Dan kami tunjang pula mereka dengan petunjuk, dan kami teguhkan hati mereka.” (QS.18:13-14). “
“Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mu'min supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana,” (QS. 48:4)
”Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, hati mereka mengingkari (keesaan Allah), sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong.” (QS. 16 :22)
“ Tuhanku, janganlah Engkau sesatkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk, dan berilah ampunan-Mu” ( QS. 3:8 )
“Mereka yang hatinya dipenuhi oleh keragu-raguan, sehingga dalam keragu-raguan itu mereka terombang-ambing.” (QS. 9:45 )
Nabi berkata menurut kabar Imam Bukhari : “ Sesungguhnya setan itu mengalir dalam diri manusia seperti mengalirnya darah, maka aku khawatir bahwa dia akan memasukkan kejahatan ke dalam hatimu.”
Tuhan berfirman : “Mereka itu adalah orang-orang yang tidak dikehendaki Tuhan untuk disucikan hatinya, bagi mereka adalah kehinaan di dunia ini.” (QS. 5:41)

Nabi Ibrahim a.s berdoa :
”dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,” (QS. 26 : 87-89)

Nabi Muhammad SAW berdoa : “ Wahai Tuhan, bersihkanlah dariku seluruh kesalahanku dengan air dari salju dan hujan, sucikan kesalahan-kesalahn dari hatiku sebagaimana Engkau menyucikan kotoran dari kain putih dan bebaskan aku dari kesalahan-kesalahan sebagaimana Engkau telah menghilangkan timur dari barat.” Nabi ditanya, “siapakah yang paling baik diantara orang-orang ?” Dia menjawab , ”Setiap orang yang hatinya bersih dan lidahnya berkata benar.” Mereka berkata : “Kami mengenali orang yang lidahnya berkata benar, tetapi siapakah yang hatinya bersih?” Dia berkata : “Dia adalah yang bertakwa dan suci, yang tidak mempunyai dosa, tidak berbuat salah, tidak mempunyai dendam dan tidak menyimpan rasa iri” (Ibnu Majah)

Jadi jelas, amal batiniah mendapat perhatian utama sebelum amal lahiriah. Pernah dikisahkan bahwa Allah mengampuni dosa orang yang telah membunuh sebanyak 100 orang disebabkan hatinya tulus bertobat kepada-Nya. Juga, seorang pelacur mendapat rahmat Allah hanya dikarenakan hatinya berbelas kasih terhadap seekor anjing.
Maka, dalam urutan penyerahan diri kepada Tuhan, seorang muslim menyerahkan hatinya terlebih dahulu, baru setelah itu ia menyerahkan tubuhnya, dan akhirnya jiwa raganya tunduk pasrah kepada Tuhan dengan segala ketetapan-Nya.
Sebenarnya, raga akan tunduk pasrah secara otomatis setelah jiwa tunduk pasrah terlebih dahulu. Karena gerak-gerik raga adalah simbol dari aktifitas jiwa. Spiritualitas mempengaruhi materialitas. Tubuh tidak bergerak sendiri, melainkan hati menyetir kemana ia harus bergerak. Jika hatinya baik, maka menjadi baiklah seluruh aktifitas tubuhnya. Dan sebaliknya, jika hatinya buruk maka menjadi buruklah seluruh aktifitas tubuhnya. Dan jika hati tunduk pasrah, maka tubuhpun ikut tunduk pasrah.
Disini kita bisa memahami kenapa kesaksian kedua tentang Nabi Muhammad baru dapat terucap setelah kesaksian pertama, yaitu tentang ke-Esaan Allah. Kesaksian pertama menjadi dasar bagi munculnya kesaksian kedua.
Ada orang yang hanya bertumpu pada kesaksian kedua saja tanpa yang pertama. Oleh karenanya kita sering melihat kondisi umat yang terjebak pada situasi ritual yang kering tanpa makna, berjalan tanpa arah dan tujuan, berdiri tanpa pijakkan. Apa hasilnya ? Praktek keberagaman umat meningkat seiring meningkatnya problem kemanusiaan seperti kemiskinan, kebodohan, kekerasan, ketidak-adilan, penjarahan harga diri dan harta benda, dan sebagainya.
Pengelolaan bumi oleh manusia menjadi tidak berjalan sebagaimana mestinya. Itu karena Manusia menghamba kepada hamba. Jasadnya tampak menyembah satu Tuhan, tapi sebenarnya, hatinya dipenuhi oleh banyak Tuhan. Jasadnya tampak pasrah kepada ketetapan Tuhan tetapi hatinya berontak di bawah kendali kecenderugan-kecenderungan selain Tuhan.
Atau sebaliknya, ada orang yang hanya bertumpu pada kesaksian pertama saja tanpa diikuti oleh yang kedua. Hatinya tunduk pasrah kepada Tuhan tetapi jasadnya menolak ketetapan Tuhan yang disampaikan-Nya melalui nabi-Nya.
Muslim sejati adalah orang yang menyerahkan dirinya apa adanya sesuai dengan fitrah penciptaannya. Fitrah adalah sesuatu yang asli. Sudah begitu dari sananya. Aslinya, dia diciptakan dari tanah liat yang diberi bentuk sebagai struktur lahir kemudian ditiupkan ruh Tuhan ke dalamnya sebagai batinnya. Begitu pula dia memahami realitas dirinya sebagaimana aslinya. Dan ketika dia dihadapkan pada ketentuan penyerahan diri kepada Tuhan, maka dia menyerahkan lahir batin itu.
Barangkali, makna seorang muslim tidak bisa di tangkap dengan pasti. Barangkali juga, tidak ada simbol yang muncul sebagai tanda dari makna itu. Mungkin, kita juga tidak begitu suka dengan segala bentuk simbol. Oleh karena kita ingin menyimpan makna itu dengan rapi dan dalam tersembunyi. Kalau demikian, bagaimana seorang muslim bisa dikenali ? Atau bagaimana dengan kebanggaan ketika kita berkata : saksikanlah sesungguhnya aku ini seorang muslim, bisa diwujudkan dengan rendah hati ?!
Kepasrahan yang timbul dari pengetahuan, kesadaran, lalu cinta, mampu memadamkan yang satu dan menghidupkan yang lain. Yang satu itu menjadi padam, lemah tak berdaya agar yang lain bisa hadir dengan segala kehendak dan kekuatannya. Yang satu itu pasrah agar bisa dikuasai oleh yang lain. Jika yag satu itu masih nyata dengan hasrat dan kehendaknya, lalu bagaimanayang lain bisa menguasai sepenuhnya. Kepasrahan hanya ada jika yang satu menerima kehendak sepenuhnya dari yang lain. Yang satu itu adalah kita dan yang lain itu adalah Tuhan.
Dengan demikian, setelah kepasrahan, kita mulai berhenti ber-aku, tidak ada lagi aku, aku dalam berkata, aku dalam berbuat, aku dalam berpikir, aku dalam merasa. Kita memberi semua ruang hanya kepada Tuhan.
Pengetahuan akan realitas tersebut menumbuhkan kesadaran dan akhirnya : cinta. Cinta membuat kita berhenti, agar yang kita cintai bisa berbuat semaunya. Cinta menutupi segalanya hingga yang nampak hanyalah yang dicintai semata. Dimanakah kita yang mencinta ? Tertutupi oleh yang dicintai.
Maka, biarlah Dia yang tercinta yang menentukan simbol-simbol cinta. Sekehendaknya Dia juga, apakah Dia hendak membungkus rapat gejolak cinta atau akan mengungkapkannya untuk diketahui.

Dalam kepasrahan ada cinta
Dalam cinta ada rasa dan kehendak
Manakah milik yang mencinta dan yang dicinta ?
Ah, semuanya menyatu dalam cinta.
Aku mendekati-Nya untuk mencintai, Dia mencariku untuk dicintai
Aku mencintai dengan jeritan; cintai aku
Dia dicintai dalam keluasan cinta-Nya yang sangat.
Mendekat, mencari, melihat, mendengar
Siapakah ?
Sang kekasih
Siapakah ?
Yang mencintai sekaligus dicintai