Total Pengunjung

AYO MEMBACA ALQURAN SECARA BERMAKNA UNTUK MENATA KEHIDUPAN SEMESTA !!

Kamis, 02 Oktober 2008

Sejahtera Dengan Membaca Dan Menulis

SEJAHTERA DENGAN MEMBACA DAN MENULIS

“Tatkala ia sedang dalam keadaan tidur dalam gua itu, ketika itulah datang malaikat membawa sehelai lembaran seraya berkata kepadanya: “Bacalah!” Dengan terkejut Muhammad menjawab, “saya tak dapat membaca.” Ia merasa seolah malaikat itu mencekiknya kemudian dilepaskan lagi seraya katanya lagi, “Bacalah!” masih dalam ketakutan akan dicekik lagi Muhammad menjawab, “Apa yang akan saya baca?” seterusnya malaikat itu berkata: “Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan. Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah. Dan Tuhanmu Maha Pemurah. Yang mengajarkan dengan pena. Mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya...” Lalu ia mengucapkan bacaan itu. Malaikatpun pergi, setelah kata-kata itu terpatri dalam kalbunya.” Demikian Muhammad Husain Haekal menceritakan sepenggal kisah kehidupan Muhammad Al-Amin pada mula pertama ia diangkat menjadi Rosul.

Anakku, yang menarik dari kisah di atas adalah Allah telah menjadikan aktifitas baca tulis sebagai wahyu pertamanya, “Bacalah Dan Tuhanmu Maha Pemurah. Yang mengajarkan dengan pena.” Seakan-akan Allah berkata kepada Muhammad, “ya Muhammad! Jika kamu ingin menyingkap kegelapan yang menyelubungi masyarakatmu dan menggantinya dengan cahaya terang benderang, bimbinglah mereka membaca dan menulis, jika kamu ingin memecah kejumudan yang bersarang dalam hati, akal pikiran dan kehidupan mereka, perintahkan mereka membaca dan menulis!”

Saat itu, budaya yang berkembang adalah budaya lisan. Kemampuan bertutur kata dengan baik dan kemampuan menghapal menjadi kebanggaan yang diagungkan secara luar biasa. Menurut Tanthowi Jawhari dalam Al-Jauhar fi tafsir Al-Qur’an Al-Karim, ayat tersebut mendobrak kejumudan masyarakat Arab kala itu yang hanya mementingkan tradisi pengindraan, hapalan dan tutur kata, dengan menyodorkan hal lain yang tidak kalah penting, yaitu: tulisan. Bahkan tidak semata menyodorkan, melainkan mewajibkan membaca dan menulis.

Wahyu lain yang mengisyaratkan perintah membaca dan menulis adalah surah Al-Qalam ayat 1-2, yang juga termasuk ayat Makiyah: “Nun, perhatikan Qalam dan apa yang dituliskannya.” Sesungguhnya yang pertama diciptakan Allah adalah Al-Qalam, kemudian Allah menjadikan Nun, yakni tinta. Lalu Dia berkata kepadanya, “Tulislah!” Al-Qalam bertanya, “Apa yang harus kutulis?” Dia berfirman, “ Tulislah apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi sampai hari kiamat, baik perbuatan, peninggalan, maupun pemberian,” lalu Al-Qalam pun menuliskan apa yang telah dan akan terjadi sampai hari kiyamat. Itulah maksud Allah dalam ayat: “Nun, perhatikanlah Qalam dan apa yang dituliskannya.” Begitu sabda Rosulullah SAW menurut berita Imam Muhammad Isa bin Surah At-Tirmidzi.

Dengan perintah membaca dan menulis, Muhammad Rosulullah SAW tampil sebagai revolusioner sosial. Sebagai bagian dari dakwahnya, ia memerintahkan penulisan Al-Qur’an setiap menerima wahyu. Ia memerintahkan pengajaran baca tulis sebagai syarat kebebasan bagi tawanannya. Ia pun menulis surat sebanyak 105 buah melalui tangan sekretarisnya, yang disebarkan keseluruh negeri demi terwujudnya Islam sebagai rahmat bagi semesta alam.

Sejarah Muhammad SAW telah menunjukkan bahwa perbaikan total dan mendasar bagi sebuah masyarakat dan bangsa tidak dapat diwujudkan kecuali dengan mengajak anggota masyarakat untuk gemar membaca dan menulis. Sejarah mencatat, agama Muhammad SAW, dengan wahyu baca tulis sebagai wahyu pertamanya, telah mampu mengangkat derajat masyarakatnya yang bodoh, primitif dan penuh selubung kegelapan lahir batin kepada masyarakat bergelar kuntum khairu ummah, yaitu masyarakat yang paling baik, beradab dan peradabannya terang benderang hingga mampu menerangi masyarakat lainnya meski tempat dan masanya berjauhan.

Wahyu baca tulis adalah starting point bagi usaha peningkatan kualitas pribadi kita kearah yang semakin baik, dan pada akhirnya, masyarakatpun menjadi sejahtera, karena ia merupakan kumpulan dari pribadi-pribadi yang berkualitas. Untuk itu, bacalah anakku, dan perhatikan apa yang dapat kautuliskan dari hasil bacaan itu!

Melalui wahyu baca tulis, Allah SWT mengangkat derajat manusia dari segumpal darah yang hina menjijikkan menjadi manusia, yang dengan pengetahuan yang diajarkan-Nya, mampu membangun peradaban dunia seperti sekarang ini. Melalui Qalam, tulis Hamka, orang dapat menuliskan buah pikiran, keinginan dan perasaan. Dengan kehadiran Qalam, ilmu pengetahuan tiada tersisa tercatat. Bahkan para pengarang dan pujangga telah mengantarkan bangsanya untuk merdeka, disebabkan percikan tinta dan goresan pena.

Membaca tidak sekedar menghimpun huruf demi huruf menjadi sekumpulan huruf yang bermakna, tetapi lebih dari itu, membaca adalah usaha menengok lebih jauh ke balik huruf untuk mendapatkan gagasan yang tersembunyi di balik huruf-huruf tersebut. Karena itu, aktifitas membaca adalah aktifitas yang mampu menggerakkan pembacanya untuk terus berjalan dari satu gagasan menuju gagasan lain, hingga ia berhasil berdiri di atas puncak bangunan gagasan besar dan berteriak dengan lantang: “aku adalah gagasan dan gagasan itu adalah aku!” artinya, ia mampu mewujudkan gagasan-gagasan yang diperoleh dari aktifitas membacanya menjadi gerak-gerik perilaku kehidupannya sehari-hari. Diri dan tingkah lakunya menjadi bukti nyata dari gagasan-gagasan yang terserak di balik huruf-huruf yang telah ia serap.

Begitu juga dengan menulis, ia tidak sekedar melukis huruf demi huruf di atas kertas. Menulis adalah proses melahirkan, seperti seorang ibu melahirkan anaknya. Pernah menengok sebuah kelahiran? Ia memberikan inspirasi yang menghidupkan dan memberi harapan bahwa hidup tidak berhenti di sini. Ia merangsang kelahiran lainnya. Nah! Menulis itu seperti melahirkan, penuh dengan beban dan perjuangan, tetapi hasilnya kenangan hidup yang menghidupkan tadi.

Mengapa kita harus menulis? Seorang ibu bertanya kepada anaknya, seorang penyair muda, bahkan sangat muda, Abdurrahman Faiz, 8 th, seperti yang diceritakannya kepada Metro TV 03/12/05 tentang apa yang menyebabkannya gemar menulis. Ia menjawab: “ada tiga alasan, Bunda. Pertama, aku ingin bertambah cerdas. Kedua, aku ingin menyatakan diriku, dan Ketiga, aku ingin menolong orang lain.

Ya! Dengan kebiasaan menulis, kita akan semakin cerdas. Tidak sekedar menulis, tetapi menuangkan gagasan-gagasan tentang sesuatu yang merupakan perpaduan dari gagasan milik kita sendiri dengan gagasan milik orang lain. Peradaban dunia ini, pada hakikatnya adalah bangunan besar dari gagasan-gagasan yang muncul secara bersusun-susun sepanjang sejarah kemanusiaan. Menulis artinya mengikat ilmu pengetahuan hingga menjadi pondasi kokoh bagi ilmu pengetahuan lain.

Menulis, juga berarti menunjukkan siapa kita. Di dalam buku Mengikat Makna, Hernowo menjelaskan, aktifitas menulis membantu menemukan diri atau karakter kita. Lewat kebiasaan menulis, seolah-olah kita diajak untuk merumuskan diri kita. Bila kita menulis tentang kejujuran, kasih sayang, toleransi dan nilai-nilai moralitas tinggi lainnya, berarti kita sedang merumuskan diri kita ke dalam nilai-nilai tersebut. Bila kita tidak mampu menulis, itu menunjukkan bahwa kita tidak punya apa-apa dan bukan siapa-siapa. Kita hanyalah setumpuk besar omdo alias omong doang.

Melalui baca tulis, hidup menjadi lebih hidup. Setiap orang tentu mempunyai satu fase kehidupan di mana jalan kehidupannya indah mewangi tertaburi bunga-bunga, yaitu saat perasaannya terbagi dan menyatu dengan perasaan orang lain. Tanpa baca tulis, kita hanya mempunyai satu kehidupan, satu piring nasi, satu gelas air, satu stel pakaian, satu perasaan, satu pemikiran dan seterusnya. Kita hanya merasai kehidupan pribadi kita sendiri, tetapi dengan membaca, kita dapat ikut menikmati kehidupan orang lain, dan dengan menulis kita dapat membagi kehidupan kita kepada orang lain.

Karena itu, mulailah membaca dan menulis, anakku. Membaca bukan untuk mengisi kehidupan yang sempat senggang, tetapi membaca untuk memadu kehidupan kita dengan kehidupan orang lain, sehingga kita mengerti, ternyata kehidupan tidak sebatas kehidupan yang kita lakoni saja, ada banyak kehidupan lain yang boleh jadi dapat mengisi ruang-ruang kehidupan kita yang hampa hingga menjadi utuh.

Dan menulis, bukan sekedar mengabadikan cerita kehidupan kita saja, tetapi menulis untuk membagi kehidupan kita agar dapat dimiliki oleh orang lain, karena pada hakikatnya, kehidupan itu bukanlah milik pribadi. Makanya Allah mengingatkan, siapa yang telah membunuh satu kehidupan, berarti seolah-olah ia telah membunuh banyak kehidupan. Nah! Berhenti menulis berarti membatasi kehidupan untuk kemudian membunuhnya secara perlahan-lahan. Apalagi sekaligus juga berhenti membaca, ia mengundang kematian untuk datang tak terasa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar