Arus waktu penuh tanda tanya. Adakah yang dapat menjawab apakah ia seperti kijang yang berlari dengan cepat? Ataukah seperti kura-kura yang berjalan lambat? Atau malah seperti keong siput, tampak diam tak beranjak tahu-tahu sudah berada di tempat lain? Arus waktu di Hutan Rimba Raya, berlalu begitu cepat, tak terasa. Tidak ada yang perlu melihat apakah matahari telah terbit ataukah telah tenggelam kembali. Waktu berjalan begitu cepat hingga tak lagi dapat terbagi: masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Yang ada –bagi mereka- dan menjadi perhatian hanyalah satu waktu: masa yang akan datang.
Sepakat dengan hasrat menata kehidupan, binatang-binatang di Hutan Rimba Raya tak lagi sempat berpijak di masa kini, apalagi sekedar menengok ke masa lalu. Bayangan diri mereka telah memimpin perjalanan didepan mereka sendiri dan melesat jauh kedepan. “Masa lalu? Tidak! Itu bukan milik kita lagi, buang dan campakkan sejauh yang engkau bisa hingga engkau benar-benar percaya bahwa sama sekali engkau tidak pernah melalui masa itu. Masa kini? Juga tidak! Karena kini kita tidak lagi (ingin) melihat bayangan diri kita sendiri, siapakah kita kini? YANG (INGIN) KITA LIHAT ADALAH BAYANGAN DIRI YANG SEHARUSNYA ADALAH MILIK KITA. DAN ITU ADALAH MASA YANG AKAN DATANG!” begitu mereka percaya.
Maka, tak terlihat lagi bayangan kuda yang meringkik sambil menaikkan kedua kaki depannya menendang-nendang. Tak terlihat lagi bayangan monyet yang bergelantungan kesana kemari, menggaruk-garuk, dan menguap lebar-lebar. Tak terlihat lagi –secara umum- bayangan para binatang yang kejar-mengejar mengumbar birahi. Yang terlihat adalah bayangan mereka yang santun, bertegur-sapa, penuh tata-krama.
BAYANGAN!!???
Ya, diri mereka yang sesungguhnya tetap saja saling menggigit, mencakar, dan menanduk. Bahkan dengan cara yang lebih kejam dari sebelumnya. Pada masa lalu mereka saling menggigit, mencakar, dan menanduk tetapi tetap saja kehidupan berjalan normal. Yang kini terjadi adalah: masa kini bergulat dengan masa yang akan datang … BAYANGAN KEHIDUPAN TELAH BERNAFSU MENJADI … BERUSAHA MEMBUNUH REALITAS APA ADANYA. Tampaklah perilaku santun yang sesungguhnya adalah teror mematikan. Bertegur-sapa-tersenyum yang sesungguhnya adalah jeritan rasa sakit tak tertahankan. Membangun kehidupan damai yang sesungguhnya adalah membiarkan bangkai-bangkai berkeliaran tak terurus.
Bencana kehidupan telah melanda Hutan Rimba Raya…. Bukan pepohonan yang tumbang berantakan ataupun dedaunan yang meranggas berguguran…. Tetapi akar kehidupan yang tercerabut dengan paksa…. Lalu bagaimanakah buah-buah kehidupan dapat dinikmati?
Kamis, 31 Desember 2009
Minggu, 27 Desember 2009
DUNIA MAIN-MAIN

Dulu Ayah kira, saat engkau sudah bisa berjalan adalah saat yang melegakan karena Ayah tidak harus lagi menggendongmu, engkau bisa jalan sendiri bisa main sendiri dan Ayah tinggal duduk mengawasi. Tapi ternyata tidak begitu, saat ini dimana engkau sudah bisa berjalan adalah juga saat-saat melelahkan sama seperti waktu engkau masih digendong-gendong.
Kakimu telah kuat menapak dan hasrat bermainmu semakin bertambah-tambah. Apakah Ayah tetap duduk-duduk saja mengawasimu? Terpaksa Ayah ikut bermain. Bersama anak-anak maka kita pun seharusnya menjadi anak-anak, begitu amanat baginda Rosul.
Menjadi anak-anak berarti ikut melihat dengan penglihatan anak-anak, berarti juga ikut berpikir dengan pola pikir anak-anak. Asalkan jangan berbicara dengan cara bicara anak-anak: dicadelin. Anak juga perlu melihat contoh bagaimana orang dewasa bicara. Menjadi anak-anak tidak berarti menghilangkan kedewasaan kita. Menjadi anak-anak adalah dengan sikap sadar semata-mata ingin coba memahami dunia anak-anak. Kita ingin menunjukkan bahwa hubungan yang harmonis dan bersahabat adalah hubungan kesetaraan, hubungan yang menjaga jarak dengan arogansi kedewasaan ataupun egoisme kekanak-kanakan. Maka Baginda Rosul pernah mempercepat sholat karena mendengar ada anak yang menangis ataupun memperpanjang sujud demi membiarkan cucunya bermain-main dipunggungnya.
Ah, betapa menyenangkan menjadi seorang anak. Dunianya adalah bermain, bermain dan bermain. Dan pada saat dia bermain, orang-orang disekitarpun ikut bermain bersamanya. Seorang anak bermain untuk menyegarkan jiwanya sehingga mampu terus berkembang dan berkembang. Orang dewasa yang ikut bermain jiwanya juga menjadi segar dan tidak berhenti berkembang. Jiwa menjadi kaku dan mandeg hanya ketika kita berhenti bermain. Segalanya menjadi serba serius dan kaku. Bayangan dan realita bercampur aduk. Kepekaan rasa menjadi hilang.
Sesungguhnya dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau belaka, begitu Allah berfirman. Dan rasa-rasanya engkaulah, anakku, yang paling mengerti dengan kalam suci itu. Ayah sudah seringkali melantunkan ayat suci itu sedangkan engkau membaca sekalipun belum pernah. Tetapi seolah-olah engkau telah memahaminya dengan menjadikan dunia ini benar-benar sebagai arena permainan dan engkaulah pemain diarena itu. Engkau genggam dunia dan engkau reguk saripatinya.
Ayah pernah beberapa kali putus asa dengan dunia. Rasanya ingin sekali menjaga jarak dengan dunia. Berapakah nilai dunia? Dunia hanyalah tempat bermain dan bersenda gurau belaka. Oleh karenanya dunia menjadi tidak penting. Apa yang penting? Yang penting adalah kehidupan abadi setelah dunia. Disanalah kebahagiaan sesungguhnya diperoleh. Kebahagiaan yang benar-benar bahagia yang tidak berakhir dengan kesedihan. Tidak seperti di dunia ini, dunia yang tidak hakiki. Kita menangis tapi yang terdengar adalah tawa. Kita tertawa tapi yang terlihat adalah air mata.
Anakku, engkau memperlihat sisi yang hakiki dari dunia ini. engkau telah benar-benar tersedot masuk dalam hakekat dunia: permainan. Ayah melihat engkau bermain, tapi apakah engkau merasa sedang bermain? Ataukah engkau yang dipermainkan? Oleh siapa? Apakah dunia ini juga dipermainkan? Oleh siapa?
Jika dunia ini disebut sebagai arena permainan, maka sudah tentu ada suatu rancangan permainan yang melibatkan Ayah, engkau dan alam semesta. Jadi bukan lagi kita yang bermain tetapi kita yang dipermainkan dalam rancangan permainan itu. Jika dunia adalah panggung sandiwara maka sudah tentu ada alur cerita yang harus ditaati oleh para penghuni panggung tersebut. Kalau begitu, apalah artinya kalah dan menang dalam permainan. Apalagi dalam permainan yang dirancang sendiri oleh pemainnya. Apalagi pemainnya itu adalah pemain tunggal. Ibarat permainan catur. Permainan menjadi sangat memusingkan apabila dimainkan oleh dua orang. Kalah dan menang menjadi sesuatu yang sangat berarti. Tetapi bila pemainnya hanya satu-satunya, apalah artinya kalah dan menang.
Begitu ya?
Benar Ayah, perlakukan dunia seolah-olah Ayah akan hidup selamanya sehingga tidak perlu sedih dan cemas bila ada permainan dunia yang luput dari Ayah, kan masih bisa dimainkan kapan-kapan. Permainan yang telah berlalu, menang atau kalah, biarkanlah berlalu. Permainan yang akan datang belum diketahui bentuknya. Hanya permainan saat ini sajalah, yang sedang kita mainkan, yang harus kita mainkan dengan sungguh-sungguh. Pernahkah Ayah lihat aku bermain dengan malas-malasan. Apa saja yang ada dihadapanku aku mainkan dengan sungguh-sungguh sampai aku merasa harus berganti atau diganti paksa dengan permainan yang lain. Lalu aku menjadi asyik dengan permainan itu Rasa-rasanya, semua permainan sama bagiku, sama-sama aku nikmati dengan benar-benar. Adapun setelah dunia ini, yaitu akhirat, perlakukan ia seolah-olah Ayah akan mati besok. Kalau tidak sekarang kapan lagi?
Terima kasih anakku. Setelah bermain denganmu Ayah ingin terus bermain dan menganggap persoalan dunia tidak lebih sebagai permainan belaka.
Sabtu, 26 Desember 2009
“Apakah yang terjadi Jendral?”
“Apakah yang terjadi Jendral?” tanya Raja menyelidik.Pertanyaan tiba-tiba dan sangat singkat membuat Jendral Serigala Hitam tercebur dalam pusaran keterkejutan. Pusaran itu nampak sekali diwajahnya. Dengan segala kemampuan menguasai kendali diri, ia menjawab: “Tuanku Baginda Raja, kehidupan Hutan kita ini sedang berevolusi menuju… -menurut pendapat umum yang sedang berkembang- … kepada kehidupan yang lebih baik.”
“BEREVOLUSI? BAGAIMANA BISA? SEMENTARA MEREKA … YANG BISA MELOMPAT HANYA MELOMPAT, YANG BISA MEMANJAT HANYA MEMANJAT, YANG BISA BERENANG HANYA BERENANG, YANG BISA MERAYAP HANYA MERAYAP … KEMAMPUAN MEREKA TIDAK BERKEMBANG DAN MANDEG SELAMA RIBUAN TAHUN!”
“Karena itu Tuanku, mereka sedang mengembangkan sebuah gagasan yang akan menjadi pondasi bagi gagasan-gagasan berikutnya, begitu seterusnya. Mereka berharap, sebuah gagasan yang mereka kembangkan saat ini akan mewujud menjadi bangunan besar gagasan peradaban…”
“Sampai kapan?” tanya Raja menyela, menyangsi.
“Mereka percaya, anak cucu merekalah yang akan memanen apa yang telah mereka tanam sekarang.” Jawab Jendral meyakinkan.
“Lalu apa yang harus kita lakukan Jendral hitamku? Bukankah engkau selalu mempunyai solusi atas setiap permasalahan?”
Sang Jendral tersenyum licik.
“Kita berikan apa yang mereka mau, Tuanku.”
“M a k s u d n y a ?”
“Kita perlihatkan seolah-olah Kerajaan mendukung apa yang mereka lakukan … sementara kita tahu betul bahwa menemukan satu buah gagasan pun bukanlah perkara yang mudah, apalagi mengembangkannya. Kesulitan pertama yang harus mereka atasi adalah: menyusun kata-kata penyampai gagasan. Menyusun kata-kata itu lebih berat daripada menyusun suara, perlu kaidah dan aturan yang sangat ketat. Tidak seperti ketika mereka bersuara, asal bunyi saja. Selain itu, untuk dapat menghasilkan kata-kata yang mengandung gagasan bermutu, mereka harus telah memiliki berbagai macam pengalaman, baik pengalaman berfikir maupun pengalaman beraksi. Sementara, mereka hanya memiliki satu macam pengalaman saja: pengalaman beraksi. Pengalaman itu pun saling berbeda satu sama lainnya dan mereka saling percaya bahwa pengalaman beraksi yang mereka miliki lebih baik daripada pengalaman binatang lainnya. Selanjutnya, kesulitan yang paling keras yang harus mereka hadapi adalah saat memilih mana gagasan yang bermutu dan mana yang tidak, kemudian mereka harus mencernanya dengan baik sehingga saripati gagasan itu dapat terserap keseluruh bagian tubuh mereka yang akan membuat mereka bergerak mewujudkan gagasan tersebut. Jika tidak, gagasan hanya tinggal gagasan lalu hilang tak berbekas. Memang, selama ini mereka berkemampuan memilih dan mencerna makanan dengan baik, karenanya mereka menjadi kuat, sehat, dan mampu mengatasi segala penyakit alam. Tetapi gagasan adalah makanan yang sangat baru dan asing bagi mereka. Jika mereka salah memilih dan mencerna gagasan, mereka akan tersakiti oleh gagasan itu sendiri…”
Semakin panjang Sang Jendral menjelaskan semakin Sang Raja curiga: jangan-jangan Jendral hitam-licik inilah biang keladi yang telah merekayasa semua kekacauan yang terjadi. “Baiklah Jendral,” ucap Raja memotong. “dari sekian banyak kata-kata yang engkau keluarkan, pada bagian manakah kita akan menyudahi semua kekacauan ini?”
Kembali Sang Jendral tersenyum, tambah licik. Lalu katanya, “pada saat keyakinan akan pengalaman sendiri yang paling benar + (setiap gagasan x kesalahpahaman saling bertikai) = terjadi kekacauan sosial, pada saat itulah kita akan menangkapi mereka satu persatu. Dengan dalih dan bukti bahwa berkata-kata hanyalah menimbulkan kekacauan dan mengganggu ketertiban umum, Tuanku Baginda Raja dapat mengeluarkan titah bahwa perilaku berkata-kata merupakan tindakan makar, maka siapapun yang terus berkata-kata demi menemukan gagasan dan berniat menularkann
ya kepada yang lain akan ditindak sesuai dengan hukum kerajaan yang berlaku!.”Sang Raja mengangguk-angguk.
Sang Jendral tersenyum puas.
Kamis, 24 Desember 2009
Pelatihan Bahasa Al-Qur’an Untuk Guru-Guru sekolah/TPA dan Aktivis Masjid/Musholla
Tema
Peningkatan Profesionalitas Guru-Guru dan Aktivis Masjid Dalam Pembelajaran Baca Tulis Al-Qur’an Melalui Penguasaan Kosa Kata dan Tata Bahasa Al-Qur’an.
Tujuan Pelatihan
1. Menguasai tata bahasa Al-Qur’an agar dapat menyampaikan pesan-pesan Al-Qur’an secara utuh dan komprehensif.
2. Meningkatkan kemampuan peserta didik dalam membaca dan menulis ayat-ayat Al-Qur’an melalui penguasaan kosa-kata dan tata bahasa Al-Qur’an.
3. Meningkatkan kemampuan peserta didik dalam menghapal ayat-ayat Al-Qur’an berikut terjemahannya.
4. Meningkatkan kemampuan peserta didik dalam menyimak pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an.
Waktu Pelaksanaan
Setiap hari Ahad jam 09.00 s.d 15.00
Angk I 3 Jan 2010
Angk II 10 Jan 2010
Angk III 17 Jan 2010
Angk IV 24 Jan 2010
Peserta setiap angkatan terbatas max. 30 orang
Kajian Tafsir Ayat-Ayat Tematis Pembangun Karakter
31 Januari 2010, tema: SEKOLAH PARA NABI
Gratis untuk seluruh peserta pelatihan
Materi
1. Konsep dasar tata bahasa Al-Qur’an.
2. Pembelajaran kosa-kata dan tata bahasa Al-Qur’an dengan sistim pembelajaraan aktif.
Biaya
Rp 30.000,-/orang untuk modul dan makan siang (daftar 3 orang gratis 1 orang)
Tindak Lanjut
1. Pertemuan secara berkala untuk: Monitoring dan evaluasi perkembangan pembelajaran bahasa Al-Qur’an di sekolah/masjid masing-masing.
2. Remedial atau Pengayaan materi bahasa Al-Qur’an.
3. Para peserta pelatihan berkesempatan bergabung dalam wadah: BMT Guru Indonesia Bertaqwa.
Waktu Pendaftaran
Pendaftaran pada hari pelaksanaan
jam 08.00 s.d 09.00 wib
Setelah konfirmasi sebelumnya ke:
1. Sofyan 021.50133858
2. Sutrisno 021.32750062
Tempat
Masjid Failaka
Jl. Palmerah Utara Raya No. 7 Jakarta Barat
Rute: dari Slipi/Tanah Abang/Kebayoran Lama/Kebon Jeruk naik Mikrolet M09/M09A/M11 jurusan Palmerah turun di depan Masjid Failaka
Peningkatan Profesionalitas Guru-Guru dan Aktivis Masjid Dalam Pembelajaran Baca Tulis Al-Qur’an Melalui Penguasaan Kosa Kata dan Tata Bahasa Al-Qur’an.
Tujuan Pelatihan
1. Menguasai tata bahasa Al-Qur’an agar dapat menyampaikan pesan-pesan Al-Qur’an secara utuh dan komprehensif.
2. Meningkatkan kemampuan peserta didik dalam membaca dan menulis ayat-ayat Al-Qur’an melalui penguasaan kosa-kata dan tata bahasa Al-Qur’an.
3. Meningkatkan kemampuan peserta didik dalam menghapal ayat-ayat Al-Qur’an berikut terjemahannya.
4. Meningkatkan kemampuan peserta didik dalam menyimak pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an.
Waktu Pelaksanaan
Setiap hari Ahad jam 09.00 s.d 15.00
Angk I 3 Jan 2010
Angk II 10 Jan 2010
Angk III 17 Jan 2010
Angk IV 24 Jan 2010
Peserta setiap angkatan terbatas max. 30 orang
Kajian Tafsir Ayat-Ayat Tematis Pembangun Karakter
31 Januari 2010, tema: SEKOLAH PARA NABI
Gratis untuk seluruh peserta pelatihan
Materi
1. Konsep dasar tata bahasa Al-Qur’an.
2. Pembelajaran kosa-kata dan tata bahasa Al-Qur’an dengan sistim pembelajaraan aktif.
Biaya
Rp 30.000,-/orang untuk modul dan makan siang (daftar 3 orang gratis 1 orang)
Tindak Lanjut
1. Pertemuan secara berkala untuk: Monitoring dan evaluasi perkembangan pembelajaran bahasa Al-Qur’an di sekolah/masjid masing-masing.
2. Remedial atau Pengayaan materi bahasa Al-Qur’an.
3. Para peserta pelatihan berkesempatan bergabung dalam wadah: BMT Guru Indonesia Bertaqwa.
Waktu Pendaftaran
Pendaftaran pada hari pelaksanaan
jam 08.00 s.d 09.00 wib
Setelah konfirmasi sebelumnya ke:
1. Sofyan 021.50133858
2. Sutrisno 021.32750062
Tempat
Masjid Failaka
Jl. Palmerah Utara Raya No. 7 Jakarta Barat
Rute: dari Slipi/Tanah Abang/Kebayoran Lama/Kebon Jeruk naik Mikrolet M09/M09A/M11 jurusan Palmerah turun di depan Masjid Failaka
WASIAT HITAM (4)
.................
“Berterima kasihlah kalian kepada mulut-mulut yang akrab dengan sumpah serapah. Mereka mudah mengucapkan: semoga fulan dilaknat Allah. Padahal saudaranya itu masih hidup dan mereka tidak mengerti akhir kehidupan. Do’a orang yang teraniaya cepat naik ke langit, tetapi do’a mereka keterlaluan. Do’a mereka itu telah memudahkan pekerjaan kalian. Begitu juga kepada orang-orang yang gemar membunuh para pendosa. Mereka merasa lebih baik membakar rumah daripada susah payah menangkap tikus. Berterima kasihlah, karena mereka, kalian tidak perlu lagi berlama-lama mendampingi para pendosa itu. Kalian bisa beralih menggoda yang lain.”
Para setan dan thoghut mengangguk-anggukan kepala mendengar wejangan-wejangan iblis. Biarpun mereka sudah ahli dalam urusan goda-menggoda, namun mereka tetap membutuhkan nasihat-nasihat dari iblis sebagai penghulu mereka. Mereka tahu bahwa iblis pernah sukses menggoda moyang manusia. Moyang manusia itu telah menggeser kedudukan moyang mereka dari hadapan Tuhan. Jadi, ini adalah dendam kesumat yang tak akan berkesudahan sampai mereka kembali lagi berdiri di hadapan Tuhan. Darimana permainan ini dimulai disitulah permainan akan berakhir.
Oleh karena itu, mereka tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling bahu-membahu untuk menyesatkan jalan-jalan para pencari kebenaran. Hanya manusia yang paham betul siapa dirinya, siapa musuhnya dan siapa Tuhannya, yang akan selamat dari perangkap tipu daya setan dan kolega-koleganya.
Akhir dari majelis kesesatan itu adalah sebuah bocoran rahasia yang disampaikan oleh iblis. Hal ini penting untuk diketahui oleh para setan dan thogut, agar pekerjaan mereka tidak sia-sia. Iblis tidak hanya mengajarkan bagaimana menyesatkan manusia dengan sekuat tenaga, tetapi juga mengajarkan bagaimana menyesatkan dengan cerdas.
Iblis berkata, “Wahai sahabat-sahabat gelapku, semua manusia bagaimanapun derajat keimanannya, adalah lahan dakwah kita. Semuanya sangat mungkin disesatkan. Ingatkah kalian dengan kisah Barshishah? Dia adalah seorang ulama besar, kitabnya menggunung, janggutnya memanjang, dan santrinya ribuan tersebar dimana-mana, tetapi akhir kehidupannya berada di bawah telapak kakiku. Jadi kalian tidak usah pilih-pilih objek dakwah. Kalian adalah penipu ulung, jangan sampai kalian tertipu. Jangan sampai kalian menjadi seperti musuh-musuh kita itu, kebanyakan mereka hanya mengandalkan apa yang terlihat dari luar, akhirnya banyak yang tertipu oleh penampilan luar. Orang yang kelihatannya mudah kalian sesatkan belum tentu akan kalian dapatkan. Semuanya sangat mungkin disesatkan, Adam dan Hawa pun tergelincir oleh bujuk rayu keabadianku. Jadi menyebarlah kalian ke setiap jiwa, kecuali satu, yaitu jiwa yang ikhlas.”
Para setan dan thogut terbengong-bengong mendengar paparan sang penghulu kesesatan. Mereka saling melihat satu sama lainnya. Ternyata, betapa pun ahlinya mereka dalam urusan tipu menipu, ada juga yang tak bisa tertipu. Di atas gunung masih ada gunung, mungkin begitu istilahnya. Tetapi tetap saja rasa sombong menguasai mereka. Serta merta mereka bertanya dengan suara hiruk-pikuk. Kata tanya mengapa saling bersahut-sahutan diantara mereka.
“Jangan sekali-kali kalian mendekati jiwa yang ikhlas, karena itu hanya kesia-siaan belaka.” Lanjut Iblis menengahi keributan antar kata tanya itu. “Sesuatu yang tidak bisa kalian selesaikan, jangan kalian selesaikan. Sesuatu yang tidak bisa kalian kalahkan, jangan coba-coba kalian lawan.” Para budak kegelapan semakin rtbut kebingungan. Tentu saja, yang gelap tidak mungkin menerima yang terang, meskipun diterang-terangkan. Bukan gelap lagi namanya apabila menerima terang.
Iblis melanjutkan : “Bagaimana kalian bisa menggodanya, bila dia merasa tidak punya apa-apa. Kalian menggoda sholatnya, dia merasa tidak punya sholat. Kalian menggoda hartanya, dia merasa tidak punya harta. Kalian menggoda melalui angan-angannya, dia merasa tidak punya angan-angan apa pun. Hingga kalau angan-angannya berhasil kalian tidak bisa membakarnya dengan api kebanggaan, dan kalau angan-angannya gagal kalian tidak bisa menghempaskannya dengan angin merah kesedihan. Bagaimana kalian menggodanya melalui suka atau dukanya kalau dia merasa tak punya suka ataupun duka. Kalian hembuskan rasa was-was dalam perasaannya, dia pun merasa merasa tidak bisa merasa. Kalau begitu, kalian akan menggodanya melalui apa? Sedangkan dia merasa tidak punya apa-apa sama sekali.” Begitulah jiwa yang ikhlas. Semua yang dia kerjakan benar-benar ditujukan kepada Allah, dan benar-benar dikembalikan kepada Allah sehingga dia tidak perlu melihatnya kembali dengan penglihatan senang ataupun sedih. Semua yang ada dikembalikan pada yang mengadakan. Dia mengembalikan semua sebelum yang punya memintanya.Semua milik Allah dan akan kembali kepada Allah.
Para setan dan thogut mengangguk-angguk tanda mengerti benar, atau pura-pura mengerti, Karena sikap pura-pura sudah menjadi kebiasaan mereka, sudah mendarah daging, tidak bisa dibedakan, mana yang benar-benar dan mana yang pura-pura, tidak jelas. Sebagai pemimpin kegelapan, Iblis tahu benar akan hal itu. Mereka bagaikan bayang-bayang dirinya. Perasaan mereka adalah perasaan dirinya. Gerak-gerik mereka adalah gerak gerik dirinya. Begitulah memang, hubungan yang harus ada antara pemimpin dan anak buahnya.
Setelah menyampaikan wasiat terakhirnya, Iblis menutup majelis sesatnya. Para setan dan thogut pun bertebaran di muka bumi. Mereka saling berlomba-lomba dalam kesesatan. Mereka siap menggunakan cara apa pun untuk menyesatkan siapa pun, kecuali satu, yaitu jiwa yang ikhlas. Itulah jiwa yang harus mereka hindari. “Percuma, menggoda orang-orang ikhlas bagaikan menggoda orang mati. Lagipula mana ada orang mati yang tergoda. Saat kematian mereka adalah akhir dari tugasku. Sedangkan mereka sudah mati sebelum mati.” Batin para setan dan thogut bersamaan, meskipun tempat mereka saling berjauhan. Karena dimana pun mereka berada, kelakuan mereka akan tetap sama, tidak peduli di tempat suci ataupun kotor, di masjid ataupun di pasar.
Sudah menjadi ketetapan Tuhan, bahwa di antara yang sesat ada yang lebih sesat lagi, diantara yang licik ada yang lebih licik lagi. Pada saat setan-setan itu berputus asa, hanya para setan muka dua saja yang tersenyum-senyum mendengar rahasia besar itu. Menurut hemat mereka, racun bisa saja dijadikan obat jika dilemahkan, dan sebaliknya, obat bisa menjadi racun bila berlebihan. Jadi, perilaku ikhlas yang dianggap sebagai racun yang mematikan gerak langkah mereka, bisa saja dilemahkan hingga menjadi obat penyegar nafsu-nafsu mereka. Kesimpulannya, perilaku harus diubah menjadi kata-kata. Begitulah jalan pikiran budak-budak iblis bermuka dua.
Akhirnya, tak jarang perilaku ikhlas hanya menjadi buah bibir yang dipergilirkan dari mulut ke mulut. Mulutnya ikhlas tetapi hatinya penuh dengan pamrih. Tapi tak apalah, detikan hati adalah sesuatu yang pribadi. Persoalan hati adalah persoalan dirinya dengan Tuhan yang Maha Pemaaf, yang penting detikan hati itu tidak terlontar sebagai kata-kata. Dan lain halnya dengan persoalan kata-kata, ia adalah persoalan etika, persoalan tata-krama, dan persoalan tata hubungan antar manusia yang harus dijaga benar. Kalau tidak, anda akan terlempar dari pergaulan antar manusia, begitulah dalih mereka.
“Berterima kasihlah kalian kepada mulut-mulut yang akrab dengan sumpah serapah. Mereka mudah mengucapkan: semoga fulan dilaknat Allah. Padahal saudaranya itu masih hidup dan mereka tidak mengerti akhir kehidupan. Do’a orang yang teraniaya cepat naik ke langit, tetapi do’a mereka keterlaluan. Do’a mereka itu telah memudahkan pekerjaan kalian. Begitu juga kepada orang-orang yang gemar membunuh para pendosa. Mereka merasa lebih baik membakar rumah daripada susah payah menangkap tikus. Berterima kasihlah, karena mereka, kalian tidak perlu lagi berlama-lama mendampingi para pendosa itu. Kalian bisa beralih menggoda yang lain.”
Para setan dan thoghut mengangguk-anggukan kepala mendengar wejangan-wejangan iblis. Biarpun mereka sudah ahli dalam urusan goda-menggoda, namun mereka tetap membutuhkan nasihat-nasihat dari iblis sebagai penghulu mereka. Mereka tahu bahwa iblis pernah sukses menggoda moyang manusia. Moyang manusia itu telah menggeser kedudukan moyang mereka dari hadapan Tuhan. Jadi, ini adalah dendam kesumat yang tak akan berkesudahan sampai mereka kembali lagi berdiri di hadapan Tuhan. Darimana permainan ini dimulai disitulah permainan akan berakhir.
Oleh karena itu, mereka tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling bahu-membahu untuk menyesatkan jalan-jalan para pencari kebenaran. Hanya manusia yang paham betul siapa dirinya, siapa musuhnya dan siapa Tuhannya, yang akan selamat dari perangkap tipu daya setan dan kolega-koleganya.
Akhir dari majelis kesesatan itu adalah sebuah bocoran rahasia yang disampaikan oleh iblis. Hal ini penting untuk diketahui oleh para setan dan thogut, agar pekerjaan mereka tidak sia-sia. Iblis tidak hanya mengajarkan bagaimana menyesatkan manusia dengan sekuat tenaga, tetapi juga mengajarkan bagaimana menyesatkan dengan cerdas.
Iblis berkata, “Wahai sahabat-sahabat gelapku, semua manusia bagaimanapun derajat keimanannya, adalah lahan dakwah kita. Semuanya sangat mungkin disesatkan. Ingatkah kalian dengan kisah Barshishah? Dia adalah seorang ulama besar, kitabnya menggunung, janggutnya memanjang, dan santrinya ribuan tersebar dimana-mana, tetapi akhir kehidupannya berada di bawah telapak kakiku. Jadi kalian tidak usah pilih-pilih objek dakwah. Kalian adalah penipu ulung, jangan sampai kalian tertipu. Jangan sampai kalian menjadi seperti musuh-musuh kita itu, kebanyakan mereka hanya mengandalkan apa yang terlihat dari luar, akhirnya banyak yang tertipu oleh penampilan luar. Orang yang kelihatannya mudah kalian sesatkan belum tentu akan kalian dapatkan. Semuanya sangat mungkin disesatkan, Adam dan Hawa pun tergelincir oleh bujuk rayu keabadianku. Jadi menyebarlah kalian ke setiap jiwa, kecuali satu, yaitu jiwa yang ikhlas.”
Para setan dan thogut terbengong-bengong mendengar paparan sang penghulu kesesatan. Mereka saling melihat satu sama lainnya. Ternyata, betapa pun ahlinya mereka dalam urusan tipu menipu, ada juga yang tak bisa tertipu. Di atas gunung masih ada gunung, mungkin begitu istilahnya. Tetapi tetap saja rasa sombong menguasai mereka. Serta merta mereka bertanya dengan suara hiruk-pikuk. Kata tanya mengapa saling bersahut-sahutan diantara mereka.
“Jangan sekali-kali kalian mendekati jiwa yang ikhlas, karena itu hanya kesia-siaan belaka.” Lanjut Iblis menengahi keributan antar kata tanya itu. “Sesuatu yang tidak bisa kalian selesaikan, jangan kalian selesaikan. Sesuatu yang tidak bisa kalian kalahkan, jangan coba-coba kalian lawan.” Para budak kegelapan semakin rtbut kebingungan. Tentu saja, yang gelap tidak mungkin menerima yang terang, meskipun diterang-terangkan. Bukan gelap lagi namanya apabila menerima terang.
Iblis melanjutkan : “Bagaimana kalian bisa menggodanya, bila dia merasa tidak punya apa-apa. Kalian menggoda sholatnya, dia merasa tidak punya sholat. Kalian menggoda hartanya, dia merasa tidak punya harta. Kalian menggoda melalui angan-angannya, dia merasa tidak punya angan-angan apa pun. Hingga kalau angan-angannya berhasil kalian tidak bisa membakarnya dengan api kebanggaan, dan kalau angan-angannya gagal kalian tidak bisa menghempaskannya dengan angin merah kesedihan. Bagaimana kalian menggodanya melalui suka atau dukanya kalau dia merasa tak punya suka ataupun duka. Kalian hembuskan rasa was-was dalam perasaannya, dia pun merasa merasa tidak bisa merasa. Kalau begitu, kalian akan menggodanya melalui apa? Sedangkan dia merasa tidak punya apa-apa sama sekali.” Begitulah jiwa yang ikhlas. Semua yang dia kerjakan benar-benar ditujukan kepada Allah, dan benar-benar dikembalikan kepada Allah sehingga dia tidak perlu melihatnya kembali dengan penglihatan senang ataupun sedih. Semua yang ada dikembalikan pada yang mengadakan. Dia mengembalikan semua sebelum yang punya memintanya.Semua milik Allah dan akan kembali kepada Allah.
Para setan dan thogut mengangguk-angguk tanda mengerti benar, atau pura-pura mengerti, Karena sikap pura-pura sudah menjadi kebiasaan mereka, sudah mendarah daging, tidak bisa dibedakan, mana yang benar-benar dan mana yang pura-pura, tidak jelas. Sebagai pemimpin kegelapan, Iblis tahu benar akan hal itu. Mereka bagaikan bayang-bayang dirinya. Perasaan mereka adalah perasaan dirinya. Gerak-gerik mereka adalah gerak gerik dirinya. Begitulah memang, hubungan yang harus ada antara pemimpin dan anak buahnya.
Setelah menyampaikan wasiat terakhirnya, Iblis menutup majelis sesatnya. Para setan dan thogut pun bertebaran di muka bumi. Mereka saling berlomba-lomba dalam kesesatan. Mereka siap menggunakan cara apa pun untuk menyesatkan siapa pun, kecuali satu, yaitu jiwa yang ikhlas. Itulah jiwa yang harus mereka hindari. “Percuma, menggoda orang-orang ikhlas bagaikan menggoda orang mati. Lagipula mana ada orang mati yang tergoda. Saat kematian mereka adalah akhir dari tugasku. Sedangkan mereka sudah mati sebelum mati.” Batin para setan dan thogut bersamaan, meskipun tempat mereka saling berjauhan. Karena dimana pun mereka berada, kelakuan mereka akan tetap sama, tidak peduli di tempat suci ataupun kotor, di masjid ataupun di pasar.
Sudah menjadi ketetapan Tuhan, bahwa di antara yang sesat ada yang lebih sesat lagi, diantara yang licik ada yang lebih licik lagi. Pada saat setan-setan itu berputus asa, hanya para setan muka dua saja yang tersenyum-senyum mendengar rahasia besar itu. Menurut hemat mereka, racun bisa saja dijadikan obat jika dilemahkan, dan sebaliknya, obat bisa menjadi racun bila berlebihan. Jadi, perilaku ikhlas yang dianggap sebagai racun yang mematikan gerak langkah mereka, bisa saja dilemahkan hingga menjadi obat penyegar nafsu-nafsu mereka. Kesimpulannya, perilaku harus diubah menjadi kata-kata. Begitulah jalan pikiran budak-budak iblis bermuka dua.
Akhirnya, tak jarang perilaku ikhlas hanya menjadi buah bibir yang dipergilirkan dari mulut ke mulut. Mulutnya ikhlas tetapi hatinya penuh dengan pamrih. Tapi tak apalah, detikan hati adalah sesuatu yang pribadi. Persoalan hati adalah persoalan dirinya dengan Tuhan yang Maha Pemaaf, yang penting detikan hati itu tidak terlontar sebagai kata-kata. Dan lain halnya dengan persoalan kata-kata, ia adalah persoalan etika, persoalan tata-krama, dan persoalan tata hubungan antar manusia yang harus dijaga benar. Kalau tidak, anda akan terlempar dari pergaulan antar manusia, begitulah dalih mereka.
NAFSU MENJADI BERKOMPLOT DENGAN KETAKUTAN AKAN TIADA MENUTUPI KESADARAN AKAN REALITAS SESUNGGUHNYA
Sang Raja memasuki istana dengan terengah-engah. Jiwa-raganya telah terletihkan oleh prasangkanya terhadap kata-kata yang tertulis pada akar itu. Ia mengira kata-kata itu hendak memaksa masuk melalui lubang kecil di telinganya dan menuntut untuk dipahami. Ia berlari sekencang-kencangnya … terus berlari sejauh-jauhnya … mengejar keinginannya yang telah lebih cepat berlari lebih kencang lebih jauh menghindari kata-kata … nafasnya tersengal-sengal … tetapi bawah sadarnya seperti tak perduli terus menuliskan kata-kata itu berulang-ulang di benak pikirannya agar ia baca berkali-kali … Kesadarannya mengingkari … ITU HANYALAH SEKUMPULAN TINTA YANG TERSUSUN DAN KERTAS BELAKA … ATAU SUARA YANG MENGUAP TAK BERBEKAS LALU SIRNA … Bawah sadarnya terus memaksa … kalau begitu mengapa engkau harus takut? Dipahami atau tidak, kata-kata itu hanyalah tinta, kertas atau suara yang sebentar lagi terlupakan. Bukan wujudnya, tetapi alasan dari keberadaannya. Bacalah keras-keras dalam hatimu sendiri agar engkau tahu untuk apa kata-kata itu tersusun atau tersuarakan … Kesadarannya terus berlari menghindar … TAPI SIAPAKAH YANG….? Bawah sadarnya langsung menghadang … jangan bertanya: siapakah yang menuliskan? … siapakah yang menyuarakan? … tapi bertanyalah: untuk apa? Maka engkau akan memperoleh gagasan yang … TIDAK! Kesadarannya menerjang, menguasai dan menekan bawah sadarnya sampai ketingkat yang paling dasar sehingga tak mampu lagi bersuara. Yang boleh terdengar hanyalah suara yang dikehendaki secara sadar … TIDAK ADA SATU GAGASAN PUN YANG AKAN MERUBAH KEHIDUPAN YANG TELAH BERLANGSUNG SELAMA RIBUAN TAHUN … SELURUH PENGHUNI HUTAN RIMBA RAYA TELAH MERASA CUKUP DENGAN APA YANG ADA SELAMA INI … Sang Raja telah memutuskan bahwa ia harus melindungi kehidupan yang menurut pengetahuannya baik-baik saja, dan oleh karenanya tidak perlu ada yang berubah. “PANGGIL JENDRAL SERIGALA HITAM!” titahnya menyasar sekenanya. Dan yang terkena sasaran titahnya itu lari blingsatan mencari Sang Jendral.
Sang Raja duduk mengistirahatkan jiwa-raganya di atas singgasana. Sayup-sayup ia mendengar suara langit berputar-putar semakin tinggi semakin jauh … NAFSU MENJADI DAN KETAKUTAN AKAN TIADA MENUTUPI REALITAS SESUNgguhnya, yang digenggamnya hanyalah yang tampak ada yang sesungguhnya tiada … Sang Raja hanya mendengar suara yang semakin jauh semakin menghilang. “Hhmm… hanya angin yang berhembus,” gumamnya.
Sang Raja duduk mengistirahatkan jiwa-raganya di atas singgasana. Sayup-sayup ia mendengar suara langit berputar-putar semakin tinggi semakin jauh … NAFSU MENJADI DAN KETAKUTAN AKAN TIADA MENUTUPI REALITAS SESUNgguhnya, yang digenggamnya hanyalah yang tampak ada yang sesungguhnya tiada … Sang Raja hanya mendengar suara yang semakin jauh semakin menghilang. “Hhmm… hanya angin yang berhembus,” gumamnya.
Sabtu, 19 Desember 2009
PERANG YANG PALING RUMIT TENGAH BERKECAMUK DI DUNIA APA ADANYA
“AAAUUUUUMMM
…” Sang Raja mengaum dahsyat di tengah Hutan Rimba Raya. Pepohonan, dahan, ranting, dedaunan, dan semak-semak bergetar menggoyangkan semua yang melekat bersembunyi….. tetapi hanya dedaunan tua saja yang berguguran, sisanya hanya hening dan senyap. Sang Raja diam menatap. Matanya mencari sekeliling untuk bertanya-tanya: DI MANAKAH SEMUA KATA YANG TELAH MENGUSIK KETENANGAN HUTAN RIMBA RAYA? DI MANAKAH SEMUA GAGASAN YANG MENGGUGAT KEHIDUPAN YANG TELAH BERLANGSUNG SEJAK AWAL MULANYA? Hening… tak ada suara selain suaranya sendiri. Tak ada jawaban selain jawaban yang harus ia ajukan sendiri. Semakin terus ia bertanya semakin terus ia harus mengajukan jawabannya sendiri.
Sang Raja terduduk letih. Nafsunya bertanya tidak bisa lagi dipenuhi. Kini, ia hanya diam mengamati sekeliling sambil mengawasi sang jiwa diri agar terus membuka ruang kesadarannya. Hutannya kini bukanlah hutan yang kemarin ia diami, meski pepohonan dan daun-daunnya masih tampak sama. Hutannya kini menjadi asing baginya. Atau… ianya sendiri yang menjadi terasing bagi hutannya?
Tiba-tiba…. “AA
AUUUUUMMM…” kembali Sang Raja mengaum lebih dahsyat dari sebelumnya. Ada sebuah kesadaran yang merasuki dirinya dengan cepat dan menjalari seluruh sendi-sendi kehidupan jiwanya… lalu membuatnya sontak berdiri… menjauhi akar-akar tempatnya bersandar. AKAR? Ya, akar tempatnya bersandar itulah yang telah memenuhi nafsunya bertanya. Nafsunya bertanya yang tadi bergelora, yang kemudian berusaha ia padamkan, kini kembali terbakar membara. Akar tempatnya bersandar itu telah memberikan kesadaran tentang apa yang kini tengah terjadi di Hutan Rimba Raya. Tadinya, ia telah bersiap-siap menampung semua kata-kata yang barangkali akan disuarakan oleh semua penghuni Hutan Rimba Raya. Sungguh, ia sudah sangat siap menjawab semua kata yang bersuara menggugat hukum Hutan Rimba Raya, tetapi bukan kata yang tertulis… apalagi tertulis pada akar di mana ia sedang menyandarkan kehidupannya yang tengah letih… apalagi keletihannya itu nyata-nyata disebabkan oleh kata-kata itu sendiri.
“AAAUUUUUMMM…” kembali Sang Raja mengaum lebih dahsyat lagi dari sebelumnya… menyiratkan sebuah ketakutan. Membaca kata demi kata yang terpahat pada akar tempatnya bersandar itu bagikan menghadapi pemangsa yang lebih buas dari dirinya sendiri. Dengan taring dan cakar yang lebih tajam yang siap membunuh jiwanya. Dengan cara yang lebih kejam… membiarkan dirinya tetap hidup untuk menyaksikan sendiri kematian jiwa secara perlahan-lahan… membiarkannya hidup tetapi sesungguhnya ia telah mati!
“AAAUUUUUMMM…” tidak! Kata-kata itu tidak hanya terpahat pada akar tempatnya bersandar, tetapi juga pada setiap akar dari setiap pepohonan di hutan ini. Kata-kata, ide, gagasan-gagasan tentang kehidupan baru yang sedang diburunya karena telah terbukti menjadi sumber kekacauan di Hutan Rimba Raya, ternyata telah menghujam ke dasar kehidupan… mengakar… dan siap berbuah!
“AAAUUUUUMMM…” Sang Raja mengaum sambil berlari meninggalkan akar tempatnya bersandar itu dan akar-akar lain yang ternyata juga sama. Ia berlari sekencang-kencangnya membawa pandangan mata sejauh-jauhnya dari akar-akar itu. Tetapi, kemanapun ia berlari, tetap saja ia tidak bisa melepaskan pandangan matanya dari kata demi kata yang terpahat… kini bukan lagi pada akar-akar pepohonan tetapi pada akar jiwa kesadarannya. Maka, kemana saja ia memandang, ia akan terus membaca: kata & penalah saat ini perang yg paling rumit...
biarkan aja...memang musim akan berubah...berbagai bunga bertebaran..
semua menawarkan aromanya...kita nikmati saja1
1. Pesan di inbox dari Akar TaGana
…” Sang Raja mengaum dahsyat di tengah Hutan Rimba Raya. Pepohonan, dahan, ranting, dedaunan, dan semak-semak bergetar menggoyangkan semua yang melekat bersembunyi….. tetapi hanya dedaunan tua saja yang berguguran, sisanya hanya hening dan senyap. Sang Raja diam menatap. Matanya mencari sekeliling untuk bertanya-tanya: DI MANAKAH SEMUA KATA YANG TELAH MENGUSIK KETENANGAN HUTAN RIMBA RAYA? DI MANAKAH SEMUA GAGASAN YANG MENGGUGAT KEHIDUPAN YANG TELAH BERLANGSUNG SEJAK AWAL MULANYA? Hening… tak ada suara selain suaranya sendiri. Tak ada jawaban selain jawaban yang harus ia ajukan sendiri. Semakin terus ia bertanya semakin terus ia harus mengajukan jawabannya sendiri.Sang Raja terduduk letih. Nafsunya bertanya tidak bisa lagi dipenuhi. Kini, ia hanya diam mengamati sekeliling sambil mengawasi sang jiwa diri agar terus membuka ruang kesadarannya. Hutannya kini bukanlah hutan yang kemarin ia diami, meski pepohonan dan daun-daunnya masih tampak sama. Hutannya kini menjadi asing baginya. Atau… ianya sendiri yang menjadi terasing bagi hutannya?
Tiba-tiba…. “AA
“AAAUUUUUMMM…” kembali Sang Raja mengaum lebih dahsyat lagi dari sebelumnya… menyiratkan sebuah ketakutan. Membaca kata demi kata yang terpahat pada akar tempatnya bersandar itu bagikan menghadapi pemangsa yang lebih buas dari dirinya sendiri. Dengan taring dan cakar yang lebih tajam yang siap membunuh jiwanya. Dengan cara yang lebih kejam… membiarkan dirinya tetap hidup untuk menyaksikan sendiri kematian jiwa secara perlahan-lahan… membiarkannya hidup tetapi sesungguhnya ia telah mati!
“AAAUUUUUMMM…” tidak! Kata-kata itu tidak hanya terpahat pada akar tempatnya bersandar, tetapi juga pada setiap akar dari setiap pepohonan di hutan ini. Kata-kata, ide, gagasan-gagasan tentang kehidupan baru yang sedang diburunya karena telah terbukti menjadi sumber kekacauan di Hutan Rimba Raya, ternyata telah menghujam ke dasar kehidupan… mengakar… dan siap berbuah!
“AAAUUUUUMMM…” Sang Raja mengaum sambil berlari meninggalkan akar tempatnya bersandar itu dan akar-akar lain yang ternyata juga sama. Ia berlari sekencang-kencangnya membawa pandangan mata sejauh-jauhnya dari akar-akar itu. Tetapi, kemanapun ia berlari, tetap saja ia tidak bisa melepaskan pandangan matanya dari kata demi kata yang terpahat… kini bukan lagi pada akar-akar pepohonan tetapi pada akar jiwa kesadarannya. Maka, kemana saja ia memandang, ia akan terus membaca: kata & penalah saat ini perang yg paling rumit...
biarkan aja...memang musim akan berubah...berbagai bunga bertebaran..
semua menawarkan aromanya...kita nikmati saja1
1. Pesan di inbox dari Akar TaGana
Sabtu, 12 Desember 2009
KASAK-KUSUK DI TENGAH HUTAN
Kapankah kita beroleh ketenangan? Ketika kita mengetahui dengan benar batas kapasitas kita sebagai APA, SIAPA dan DI MANA. Pada saat itu, kita dapat meletakkan batas kebutuhan dan keinginan kita secara maksimal. Tanpa pengetahuan itu, kita hanya akan mengejar-ngejar sesuatu tanpa hasil kecuali kelelahan demi kelelahan yang terkumpul menjadi satu kekecewaan besar. Nah, itulah yang terjadi di wilayah kekuasaan The Lion King, saat mereka sudah tidak lagi mengetahui kapasitas mereka sebagai binatang.
Begini ceritanya…

Hutan Rimba Raya terusik ketenangannya, kehidupan para binatang di hutan itu berjalan tidak biasanya. Mereka diliputi kegelisahan, ketakutan dan kesedihan. Apakah ada sekelompok pemburu? Kalau cuma pemburu atau bahkan pemangsa sekalipun, mereka tidak akan sepanik ini. Bagi mereka, diburu atau dimangsa adalah sesuatu yang biasa terjadi sehari-hari di dalam komunitas hutan. Kebiasaan memburu-diburu atau memangsa-dimangsa merupakan kejadian rutin yang sudah berlangsung lama secara turun-temurun. Jadi apa yang membuat mereka panik begitu?
Beo : “kehidupan di hutan ini mulai terasa membosankan!”
Sapi : “apakah kita akan terus terjebak dalam kerutinan yang tak berkesudahan?”
Kura-kura : “sudah berapa lamakah kita tinggal dihutan ini?”
Ular : “tetapi kehidupan berlangsung begini-begini aja.”
Kuda : “ya, padahal kalau kita mau, kita bisa menata kehidupan hutan ini menjadi semakin baik daripada hari-hari sebelumnya.”
Buaya : “coba bayangkan, kalau tidak memakan ya dimakan, kalau tidak mengejar ya dikejar,…”
Kelinci : “ benar, kalau sudah melompat ya melompat saja… apakah cuma cara itu saja yang ada?”
Kura-kura : “sebenarnya banyak cara, hanya saja kita sudah terlanjur tinggal dilingkungan yang terus melakukan pembodohan ini….”
Menjangan : “dan kita tidak berani untuk sedikit saja melahirkan kreatifitas…”
Sapi : “dan kita semua menyepakati cara-cara hidup seperti itu.”
Tikus : “tapi sampai kapan?”
Ular : “harus ada yang berani memulai, tapi siapa?”
Buaya : “bukankah ada The Lion King?”
Kura-kura : “ya, sebagai Raja seharusnya dia bertanggung jawab menjamin kelangsungan hidup yang dinamis berkelanjutan.”
Sapi : “jangan-jangan…Raja kita itu juga telah terkurung oleh rutinitas hutan… sama seperti kita?”
Beo : “atau jangan-jangan… dialah yang sengaja membuat kondisi seperti ini untuk melanggengkan kekuasaannya?”
Ular : “lagi pula siapa ya yang mengangkatnya menjadi Raja?”
Kelinci : “jadi bagaimana dong?”
Begitulah kasak-kusuk yang terjadi di setiap tempat di Hutan Rimba Raya itu. Dan ujung dari setiap kasak-kusuk itu adalah:…… PERUBAHAN!…. PENINJAUAN KEMBALI HUKUM RIMBA! … GANTI KEPEMIMPINAN!
Menjangan : “tapi jangan anarkis…”
Buaya : “ya enggak lah, kita sudah bosan dengan perusakan , saling menumpahkan darah, dsb, kita ingin kehidupan yang saling berdampingan, saling melindungi, saling asah-asih-asuh, begitu kan?”
Akhirnya, para binatang itu sibuk saling menyusun cara, saling mengajukan ide, saling menguji teori, manakah yang terbaik? Mereka, para binatang yang menginginkan kehidupan yang lebih daripada yang sudah-sudah, selalu bertanya disetiap kesempatan bertemu: cara siapakah yang lebih baik?” Pada saat pertanyaan itu dilontarkan, pada saat itulah terjadi terkam-menerkam yang lebih mematikan daripada terkam-menerkam yang biasa mereka lakukan sebelumnya. Kali ini yang mereka hujamkan sesama mereka bukan taring, cakar ataupun tanduk, melainkan kata-kata. Mereka terluka, tetapi bukan pada jasad melainkan jiwa. Selama ini, jika jasad mereka teluka parah, tidak pernah terlihat bangkai-bangkai berserakan tak terurus di sembarang tempat. Tetapi, yang terluka kini adalah jiwa mereka… bangkai-bangkai mereka berkeliaran seolah-olah tak pernah mati dan tak akan mati… padahal mereka sudah lama mati… termangsa oleh kata-kata.
Begini ceritanya…

Hutan Rimba Raya terusik ketenangannya, kehidupan para binatang di hutan itu berjalan tidak biasanya. Mereka diliputi kegelisahan, ketakutan dan kesedihan. Apakah ada sekelompok pemburu? Kalau cuma pemburu atau bahkan pemangsa sekalipun, mereka tidak akan sepanik ini. Bagi mereka, diburu atau dimangsa adalah sesuatu yang biasa terjadi sehari-hari di dalam komunitas hutan. Kebiasaan memburu-diburu atau memangsa-dimangsa merupakan kejadian rutin yang sudah berlangsung lama secara turun-temurun. Jadi apa yang membuat mereka panik begitu?
Beo : “kehidupan di hutan ini mulai terasa membosankan!”
Sapi : “apakah kita akan terus terjebak dalam kerutinan yang tak berkesudahan?”
Kura-kura : “sudah berapa lamakah kita tinggal dihutan ini?”
Ular : “tetapi kehidupan berlangsung begini-begini aja.”
Kuda : “ya, padahal kalau kita mau, kita bisa menata kehidupan hutan ini menjadi semakin baik daripada hari-hari sebelumnya.”
Buaya : “coba bayangkan, kalau tidak memakan ya dimakan, kalau tidak mengejar ya dikejar,…”
Kelinci : “ benar, kalau sudah melompat ya melompat saja… apakah cuma cara itu saja yang ada?”
Kura-kura : “sebenarnya banyak cara, hanya saja kita sudah terlanjur tinggal dilingkungan yang terus melakukan pembodohan ini….”
Menjangan : “dan kita tidak berani untuk sedikit saja melahirkan kreatifitas…”
Sapi : “dan kita semua menyepakati cara-cara hidup seperti itu.”
Tikus : “tapi sampai kapan?”
Ular : “harus ada yang berani memulai, tapi siapa?”
Buaya : “bukankah ada The Lion King?”
Kura-kura : “ya, sebagai Raja seharusnya dia bertanggung jawab menjamin kelangsungan hidup yang dinamis berkelanjutan.”
Sapi : “jangan-jangan…Raja kita itu juga telah terkurung oleh rutinitas hutan… sama seperti kita?”
Beo : “atau jangan-jangan… dialah yang sengaja membuat kondisi seperti ini untuk melanggengkan kekuasaannya?”
Ular : “lagi pula siapa ya yang mengangkatnya menjadi Raja?”
Kelinci : “jadi bagaimana dong?”
Begitulah kasak-kusuk yang terjadi di setiap tempat di Hutan Rimba Raya itu. Dan ujung dari setiap kasak-kusuk itu adalah:…… PERUBAHAN!…. PENINJAUAN KEMBALI HUKUM RIMBA! … GANTI KEPEMIMPINAN!
Menjangan : “tapi jangan anarkis…”
Buaya : “ya enggak lah, kita sudah bosan dengan perusakan , saling menumpahkan darah, dsb, kita ingin kehidupan yang saling berdampingan, saling melindungi, saling asah-asih-asuh, begitu kan?”
Akhirnya, para binatang itu sibuk saling menyusun cara, saling mengajukan ide, saling menguji teori, manakah yang terbaik? Mereka, para binatang yang menginginkan kehidupan yang lebih daripada yang sudah-sudah, selalu bertanya disetiap kesempatan bertemu: cara siapakah yang lebih baik?” Pada saat pertanyaan itu dilontarkan, pada saat itulah terjadi terkam-menerkam yang lebih mematikan daripada terkam-menerkam yang biasa mereka lakukan sebelumnya. Kali ini yang mereka hujamkan sesama mereka bukan taring, cakar ataupun tanduk, melainkan kata-kata. Mereka terluka, tetapi bukan pada jasad melainkan jiwa. Selama ini, jika jasad mereka teluka parah, tidak pernah terlihat bangkai-bangkai berserakan tak terurus di sembarang tempat. Tetapi, yang terluka kini adalah jiwa mereka… bangkai-bangkai mereka berkeliaran seolah-olah tak pernah mati dan tak akan mati… padahal mereka sudah lama mati… termangsa oleh kata-kata.
Senin, 07 Desember 2009
THE LION KING

Akulah Sang Raja, kata mereka. Ya, aku tidak pernah –dengan sukarela ataupun memaksa- minta diangkat menjadi Raja. Aku juga tidak pernah mematut-matut diriku sebagai seorang Raja. Sungguh! Inilah aku apa adanya! Jika karena tampilan fisik, terutama wajahku yang katanya memancarkan aura kharismatik (apalagi kalau aku sedang diam-menatap), mereka mendaulatku sebagai raja, itu bukan mauku. Jika karena aumanku yang membuat mereka gemetar seharian, itu juga bukan gayaku yang dibuat-buat. Aku sudah begini apa adanya seperti yang kamu lihat. Salahkah aku, jika aku menyandang gelar yang sesungguhnya tidak pernah aku minta? Bahkan aku sendiri tidak pernah berkata: “Hei, aku ini kan Raja kamu, takutlah padaku, ikuti perintahku!”
Sesungguhnya, seorang yang menjadi Raja seharusnya adalah seseorang yang punya kekuatan untuk meminta, memberi ataupun menolak sesuatu. Dengan kekuatan itu ia mampu bertindak sekehendaknya. Tapi aku? Tidak sama sekali memiliki kekuatan. Karena itu sudaha seharusnya aku pasrah-menyerah saja. Pasrah terhadap kehendak Tuhan yang telah menciptakan aku begini. Menyerah kepada tanggapan dan keinginan mereka menyebutku: The Lion King.
Menolak? Bagiku, menolak dan meminta sama saja. Menolak menjadi The King berarti merasa pantas menja
di yang lain kan? Kalau sudah merasa, ya siap-siap aja kecewa jika tidak ada yang sepakat dengan perasaan kamu itu. Kalau sudah kecewa, berarti kamu sudah menindih dadamu sendiri dengan batu besar, sesak kan? Aku pernah merasa sesak seperti itu, dulu sebelum aku mendapatkan kesadaran pasrah-menyerah untuk menjadi apa adanya sebagaimana yang Dia ciptakan. Merasa menjadi atau ingin menjadi membuatku tersakiti, bahkan juga menyakiti mereka yang ada disekitarku. Itu yang aku ingin ceritakan kepadamu.Kini, aku sudah benar-benar menerima anggapan mereka bahwa aku adalah The Lion King tanpa perlu menganggap diri sendiri. Yang penting, aku kan tidak mengaku-aku sebagai Raja, atau minta diaku sebagai Raja. Jadi, sedikitpun aku tidak punya beban hidup karena gelar kebesaran ini. Aku ya aku, bukan siapa-siapa, maka aku akan tetap bersikap s
ebagai aku sebagaimana adanya. Aku tidak pernah minta gelar itu, atau tepatnya: aku tidak pernah merasa memiliki gelar itu, jadi aku tidak akan pernah takut kehilangan gelar itu. Seandainya suatu hari nanti mereka melengserkan aku, ya terserah saja toh? Mereka yang kasih, ya mereka juga yang ambil.Dan yang aku kisahkan ini adalah aku ketika merasa menjadi Sang Penguasa Hutan Rimba Raya….
Sabtu, 05 Desember 2009
Kisah Tentang Haji Abu Mardud
Sepulang dari tanah suci, orang-orang ramai berdatangan ke rumah Haji Abu Mardud, haji baru, dia baru pulang dari tanah suci tadi subuh. Tetangga dan handai taulan silih berganti datang mengunjungi, bersilaturahmi, menanyakan hal-ihwal perjalanan haji beliau, sambil sedikit berharap, siapa tahu ada oleh-oleh haji yang bisa dibawa pulang.
Selepas maghrib, Haji Abu Mardud bergegas ke rumah gurunya. Dia paham betul soal etika dan tata hubungan antar manusia yang senantiasa harus dijaga, apalagi etika antara guru dengan murid. Konon, Haji Abu Mardud termasuk murid yang tak pernah absen menghadiri majelis ilmu gurunya. Dia mengambil kepahaman, biarpun seringkali mata lebih cepat menangkap rasa kantuk, dibanding telinganya yang lamban menangkap ceramah-ceramah gurunya, tebaran sayap para malaikat akan menaungi siapa saja yang duduk di dalam majelis ilmu tanpa pilih-pilih, termasuk dirinya.
Tuan Guru hanya tersenyum penuh hikmah mendengar cerita-cerita muridnya itu, lalu ia bertanya ; “Apakah kamu, ketika mulai memakai pakaian ihram, hatimu ingat dengan kain kafan yang kelak kamu kenakan ? Dan hatimu bertekad, mulai saat ini juga semua baju kesombongan dan seragam kemunafikan akan kamu tanggalkan, kamu ganti dengan baju takwa, pakaian tawadhu dan jubah kesederhanaan ?”
“Tidak, guru,” jawab Haji Abu Mardud.
“Apakah kamu ketika berhenti di Miqat, hatimu juga mengatakan akan berhenti dari perilaku zholim, buruk sangka, makan harta riba dan semua kejahatan lainnya ?”
“Tidak, guru.”
“Apakah kamu ketika wukuf di Arafah, kamu bertekad bulat akan menghentikan hatimu dari kesibukkan-kesibukkan dunia dan tetap berdiam di tengah-tengah padang ketaatan kepada Allah ?”
“Tidak, guru.” Jawab Haji Abu Mardud bertambah gugup.
Sang guru menangis dan berkata : “ Engkau belum berhaji anakku..”
Haji Abu Mardud pulang membawa semua kesedihan. Air mata guru kini tergenang di matanya. Nasehat-nasehat guru terngiang-ngiang di telinganya, meresap ke dalam otak pikirannya kemudian turun ke hatinya. Terkepal tangannya menggenggam tekad bulat : tahun depan aku harus berhaji lagi. Tekadnya penuh bersemangat. Semangat beribadah kini berkobar-kobar di dalam dadanya.
Tahun berikutnya, Haji Abu Mardud berangkat ke tanah suci guna menunaikan ibadah haji yang kedua kalinya, dan sampai ketiga kalinya di tahun berikutnya. Dia harus yakin, bahwa hajinya telah berhasil. Jangan sampai orang-orang memanggilnya bapak haji, tetapi gurunya bilang : engkau belum berhaji, anakku. Itu adalah kerugian yang teramat besar.
Tuan guru telah mendengar berita kepulangan Haji Abu Mardud dari tanah suci. Lalu beliau pergi mengunjungi rumah muridnya yang termasuk setia itu. Haji Abu Mardud kaget demi melihat gurunya tiba-tiba berada di depan rumahnya. Apalagi saat itu dia tengah tak berkopiah. Urusan memakai kopiah bukan urusan yang sepele bagi orang-orang pengajian seperti Haji Abu Mardud. Segera dia menyeru anaknya : “ Nak, tolong ambilkan peci haji bapak di kamar!” Haji Abu Mardud malu tertangkap basah oleh gurunya.
“Peci haji yang mana, pak ?” teriak sang anak kebingungan
“Peci haji yang bapak beli pada waktu haji ketiga kemarin!” jawab Haji Abu Mardud sambil berharap gurunya mendengar bahwa dia sudah berusaha berhaji dengan benar, sampai tiga kali.
Mendengar hal itu, sang guru menangis sedih melihat keadaan muridnya. Haji Abu Mardud bingung melihat gurunya menangis. Dia bertanya : “Ada apa guru, kenapa engkau menangis ?” sang guru menjawab : “Sifat riyamu telah menggugurkan ibadah hajimu, anakku!” Sang guru berlalu.
Haji Abu Mardud bingung melihat gurunya berlalu begitu saja dari hadapannya. Hanya isak tangisnya saja yang sempat masuk ke rumah, menemani Haji Abu Mardud yang kini jatuh terduduk dalam perenungannya yang dalam :”Sudah tiga kali aku berhaji, tetapi hajiku masih gagal juga. Puluhan juta rupiah terbuang begitu saja dengan sia-sia. Ternyata haji bukan soal kemampuan uang dan fisik saja, tetapi juga soal hati. Ternyata selama ini hajiku tanpa hati. Tubuh keringku ini telah lelah terlempar kesana-kemari oleh arus jutaan jemaah haji, tetapi tak sedikit pun nilai-nilai haji aku bawa pulang ke tanah air. Tiga kali aku sudah gagal, tetapi tidak untuk yang keempat kalinya nanti. Istriku, Hajjah Riya Sum’atun Amaliyah juga harus ikut serta. Tahun depan, kami berdua harus berangkat haji lagi, tentu saja kali ini berhaji tanpa lupa membawa hati.”
Kasihan Haji Abu Mardud, semoga di tahun haji berikutnya namanya berubah menjadi Haji Dhaifullah Al Mabrur wal Maqbul, amin.
Selepas maghrib, Haji Abu Mardud bergegas ke rumah gurunya. Dia paham betul soal etika dan tata hubungan antar manusia yang senantiasa harus dijaga, apalagi etika antara guru dengan murid. Konon, Haji Abu Mardud termasuk murid yang tak pernah absen menghadiri majelis ilmu gurunya. Dia mengambil kepahaman, biarpun seringkali mata lebih cepat menangkap rasa kantuk, dibanding telinganya yang lamban menangkap ceramah-ceramah gurunya, tebaran sayap para malaikat akan menaungi siapa saja yang duduk di dalam majelis ilmu tanpa pilih-pilih, termasuk dirinya.
Tuan Guru hanya tersenyum penuh hikmah mendengar cerita-cerita muridnya itu, lalu ia bertanya ; “Apakah kamu, ketika mulai memakai pakaian ihram, hatimu ingat dengan kain kafan yang kelak kamu kenakan ? Dan hatimu bertekad, mulai saat ini juga semua baju kesombongan dan seragam kemunafikan akan kamu tanggalkan, kamu ganti dengan baju takwa, pakaian tawadhu dan jubah kesederhanaan ?”
“Tidak, guru,” jawab Haji Abu Mardud.
“Apakah kamu ketika berhenti di Miqat, hatimu juga mengatakan akan berhenti dari perilaku zholim, buruk sangka, makan harta riba dan semua kejahatan lainnya ?”
“Tidak, guru.”
“Apakah kamu ketika wukuf di Arafah, kamu bertekad bulat akan menghentikan hatimu dari kesibukkan-kesibukkan dunia dan tetap berdiam di tengah-tengah padang ketaatan kepada Allah ?”
“Tidak, guru.” Jawab Haji Abu Mardud bertambah gugup.
Sang guru menangis dan berkata : “ Engkau belum berhaji anakku..”
Haji Abu Mardud pulang membawa semua kesedihan. Air mata guru kini tergenang di matanya. Nasehat-nasehat guru terngiang-ngiang di telinganya, meresap ke dalam otak pikirannya kemudian turun ke hatinya. Terkepal tangannya menggenggam tekad bulat : tahun depan aku harus berhaji lagi. Tekadnya penuh bersemangat. Semangat beribadah kini berkobar-kobar di dalam dadanya.
Tahun berikutnya, Haji Abu Mardud berangkat ke tanah suci guna menunaikan ibadah haji yang kedua kalinya, dan sampai ketiga kalinya di tahun berikutnya. Dia harus yakin, bahwa hajinya telah berhasil. Jangan sampai orang-orang memanggilnya bapak haji, tetapi gurunya bilang : engkau belum berhaji, anakku. Itu adalah kerugian yang teramat besar.
Tuan guru telah mendengar berita kepulangan Haji Abu Mardud dari tanah suci. Lalu beliau pergi mengunjungi rumah muridnya yang termasuk setia itu. Haji Abu Mardud kaget demi melihat gurunya tiba-tiba berada di depan rumahnya. Apalagi saat itu dia tengah tak berkopiah. Urusan memakai kopiah bukan urusan yang sepele bagi orang-orang pengajian seperti Haji Abu Mardud. Segera dia menyeru anaknya : “ Nak, tolong ambilkan peci haji bapak di kamar!” Haji Abu Mardud malu tertangkap basah oleh gurunya.
“Peci haji yang mana, pak ?” teriak sang anak kebingungan
“Peci haji yang bapak beli pada waktu haji ketiga kemarin!” jawab Haji Abu Mardud sambil berharap gurunya mendengar bahwa dia sudah berusaha berhaji dengan benar, sampai tiga kali.
Mendengar hal itu, sang guru menangis sedih melihat keadaan muridnya. Haji Abu Mardud bingung melihat gurunya menangis. Dia bertanya : “Ada apa guru, kenapa engkau menangis ?” sang guru menjawab : “Sifat riyamu telah menggugurkan ibadah hajimu, anakku!” Sang guru berlalu.
Haji Abu Mardud bingung melihat gurunya berlalu begitu saja dari hadapannya. Hanya isak tangisnya saja yang sempat masuk ke rumah, menemani Haji Abu Mardud yang kini jatuh terduduk dalam perenungannya yang dalam :”Sudah tiga kali aku berhaji, tetapi hajiku masih gagal juga. Puluhan juta rupiah terbuang begitu saja dengan sia-sia. Ternyata haji bukan soal kemampuan uang dan fisik saja, tetapi juga soal hati. Ternyata selama ini hajiku tanpa hati. Tubuh keringku ini telah lelah terlempar kesana-kemari oleh arus jutaan jemaah haji, tetapi tak sedikit pun nilai-nilai haji aku bawa pulang ke tanah air. Tiga kali aku sudah gagal, tetapi tidak untuk yang keempat kalinya nanti. Istriku, Hajjah Riya Sum’atun Amaliyah juga harus ikut serta. Tahun depan, kami berdua harus berangkat haji lagi, tentu saja kali ini berhaji tanpa lupa membawa hati.”
Kasihan Haji Abu Mardud, semoga di tahun haji berikutnya namanya berubah menjadi Haji Dhaifullah Al Mabrur wal Maqbul, amin.
Langganan:
Postingan (Atom)